DEUS CARITAS EST

Kepada para Uskup, imam dan diakon, kepada para pengemban hidup bakti dan kepada semua orang beriman tentang kasih kristiani.

Pengantar

1.“Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh 4: 16). Dalam kata-kata ini dari surat pertama Yohanes dinyatakan dengan amat jelas pusat iman kristiani, gambar Allah kristiani dan juga gambar manusia yang timbul daripadanya serta jalannya. Selain itu dalam ayat yang sama Yohanes juga memberikan rumus hidup kristiani: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (bdk.4: 16).

Kita percaya akan kasih. Demikianlah orang kristiani dapat merumuskan keputusan dasar hidupnya. Pada permulaan hidup kristiani bukanlah keputusan etis atau suatu gagasan besar, melainkan pertemuan dengan suatu peristiwa, seorang pribadi yang memberi kepada hidup kita wawasan baru dan dengan demikian arah yang menentukan. Dalam injilnya Yohanes merumuskan peristiwa itu dengan kata-kata sebagai berikut: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya.. beroleh hidup kekal” (3: 16). Dengan menerima kasih sebagai pusat iman kristiani telah menerima apa yang merupakan pusat iman Israel, dan memberinya kedalaman dan keluasan baru. Karena orang Israel yang beriman setiap hari mendoakan kata-kata dari Kitab Ulangan, yang diketahuinya merangkum pusat hidupnya: “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (6: 4-6). Perintah kasih akan Allah ini dipadukan oleh Yesus (bdk. Mk 12: 29-31) dengan perintah kasih akan sesama dari Kitab Imamat: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (19: 18). Karena Allah yang lebih dahulu mengasihi kita (bdk. 1 Yoh 4: 10), maka kasih bukan lagi hanya “perintah”, melainkan jawaban atas anugerah dikasihi oleh Allah yang menyambut kita.

Dalam dunia, di mana dengan nama Allah kadang-kadang dikaitkan dengan balas dendam atau bahkan kewajiban akan kebencian dan kekerasan, pesan ini amat aktual dan praktis. Maka dari itu dalam ensiklik kami yang pertama kami ingin berbicara tentang kasih yang dianugerahkan Allah kepada kita dan yang harus kita teruskan. Dengan demikian sudah dimaklumkan kedua bagian besar tulisan ini yang saling berkaitan dengan erat.

Bagian yang pertama bersifat lebih spekulatif, karena kami bermaksud – pada awal pontifikat kami – menjernihkan beberapa pokok hakiki tentang misteri kasih, yang diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma dan sekaligus menunjukkan hubungan intrinsik antara kasih Allah ini dan realitas kasih insani. Bagian kedua bersifat lebih konkret, karena membahas penerapan praktis gerejawi perintah kasih akan sesama. Dengan demikian jelaslah betapa luas tema ini; namun pembahasan tuntas mengatasi tujuan ensiklik ini. Kami bermaksud menyelami beberapa unsur yang mendasar untuk membangkitkan di dunia kesegaran baru dalam menanggapi kasih ilahi secara praktis.

Bagian Pertama

KESATUAN KASIH DALAM TATA PENCIPTAAN DAN SEJARAH KESELAMATAN

Soal Bahasa

2.Kasih Allah kepada kita adalah dasar kehidupan dan menimbulkan soal-soal yang menentukan, siapakah Allah itu dan siapakah kita ini. Namun ada hambatan bahasa. Kata “kasih” dewasa ini telah menjadi kata yang paling banyak digunakan dan juga disalah-gunakan, dan kita mengaitkannya dengan pelbagai arti. Meskipun tema ensiklik ini berpusat pada soal pemahaman kasih menurut Kitab Suci dan tradisi Gereja, kita tak dapat mengabaikan begitu saja apa yang ditafsirkan orang dalam aneka budaya dan penggunaan bahasa masa kini.

Sebaiknya kita ingat lebih dulu akan pelbagai arti kata “kasih”. Kita berbicara tentang kasih akan tanah air, kasih akan profesi, kasih antara para sahabat, kasih akan pekerjaan, kasih antara orangtua dan anak-anak, kasih kakak-adik dan sanak-saudara, kasih akan sesama dan kasih akan Allah. Dalam keragaman arti ini kasih antara lelaki dan perempuan, di mana jiwa raga saling terkait dan tampil kepada manusia janji akan kebahagiaan yang nampak tak dapat dilawan sebagai satu-satunya contoh kasih, sehingga semua jenis kasih lainnya memudar. Timbullah pertanyaan: Apakah semua bentuk kasih ini sebetulnya merupakan kesatuan, dan apakah kasih ini – meskipun nampaknya berbeda – sebetulnya satu, atau apakah kita memakai satu kata yang sama untuk realitas yang lain sama sekali?

“Eros” dan “Agape” – Perbedaan dan kesatuan

3.Kasih antara pria dan perempuan, yang tak berasal dari pemikiran dan kemauan, melainkan menimpa manusia, oleh orang-orang Yunani diberi nama Eros. Sudah sekarang kami tegaskan bahwa Perjanjian Lama memakai kata Eros hanya dua kali, sedangkan Perjanjian Baru sama sekali tak memakainya. Dari ketiga kata untuk kasih – Eros, Philia (kasih persahabatan), Agape – tulisan Perjanjian Baru lebih suka memakai kata terakhir ini, yang dalam penggunaan bahasa Yunani termasuk pinggiran. Pengertian persahabatan (Philia) diangkat dalam injil Yohanes dan pemahamannya diperdalam, untuk mengungkapkan hubungan antara Yesus dan para muridnya. Peminggiran Eros dan paham baru kasih yang terungkap dalam kata Agape, tentulah menunjukkan sesuatu yang hakiki dari agama kristiani justru dalam pemahaman kasih. Dalam kritik kepada agama kristiani, yang menjadi makin radikal sejak Pencerahan, kebaruan ini dianggap negatif. Friedrich Nietzsche berpendapat, agama kristiani telah memberi minum racun kepada Eros; ia memang tidak mati karenanya, tetapi menjadi cacat.1 Dengan demikian filsuf Jerman itu mengungkapkan pendapat yang tersebar luas: Bukankah Gereja dengan perintah dan larangannya membuat apa yang terindah dalam hidup ini menjadi pahit? Bukankah ia mendirikan papan larangan di mana Pencipta menawarkan kegembiraan dan kebahagiaan, yang sedikit banyak membuat kita mencicipi keilahian?

4.Namun, apakah begitu? Apakah agama kristiani sungguh menghancurkan Eros? Marilah kita melihat dunia sebelum Kristus. Orang-orang Yunani – demikian pula budaya-budaya lain – semula melihat kemabukan, pemudaran akalbudi oleh “kegilaan ilahi” yang merenggut manusia dari kesempitan hidupnya dan membuatnya merasakan kebahagiaan tertinggi dalam penguasaan oleh kekuatan ilahi itu. Semua kuasa lain antara langit dan bumi nampak sebagai nomor dua. “Omnia vincit Amor”, kata Vergilius dalam Bucolica – “kasih mengalahkan segalanya” Dan ia menambahkan: “Et nos cedamus amori” – “Juga kita menghindari kasih.”2 Dalam agama-agama sikap ini mengambil bentuk upacara kesuburan, yang mencakup prostitusi “suci”, yang berkembang di banyak kenisah. Dengan demikian Eros dirayakan sebagai kuasa ilahi, sebagai persatuan dengan yang ilahi.

Perjanjian Lama dengan tegas melawan agama semacam ini yang sebagai godaan amat kuat melawan iman akan Allah yang esa, dan memeranginya sebagai penjungkirbalikan apa yang religius. Ia tak menolak Eros sebagai Eros, melainkan memerangi kekuatannya yang membinasakan. Karena pengilahian Eros yang terjadi di sini salah, merampas martabatnya dan melecehkan kemanusiaannya. Para pelacur di kenisah yang harus memberikan kemabukan ilahi, tidak diperlakukan sebagai manusia, melainkan hanya sebagai objek untuk mendatangkan kegilaan ilahi. Mereka itu bukan dewi-dewi, melainkan manusia yang disalahgunakan. Karena itu Eros yang mabuk dan tanpa kendali bukan kemajuan, “ekstase” menuju keilahian, melainkan kejatuhan manusia. Dengan demikian menjadi nyata bahwa Eros membutuhkan pengendalian, pembersihan, untuk memberi kepada manusia bukan kenikmatan sesaat, melainkan prarasa kehidupan yang tinggi – kebahagiaan yang kita rindukan.

5.Dua hal menjadi jelas setelah selayang pandang memperhatikan gambaran Eros dalam sejarah dan dewasa ini. Yang pertama ialah bahwa kasih sedikit banyak berkaitan dengan yang ilahi. Ia menjanjikan keabadian – yang lebih besar dan sama sekali lain daripada keseharian hidup kita. Namun sekaligus juga jelas bahwa jalan ke situ tidak dapat dicari begitu saja dalam penguasaan oleh nafsu. Diperlukan penjernihan dan pendewasaan, yang juga dapat melalui jalan pantang. Ini bukan penolakan eros, bukan “pengracunannya”, melainkan tindakan menuju keagungannya. Hal ini tergantung pada konstitusi manusia yang terdiri dari jiwa-raga. Manusia menjadi dirinya sendiri bila jiwa-raga menyatu. Tantangan eros diatasi bila persatuan ini berhasil. Bila manusia menghendaki hanya roh dan ingin melecehkan raga hanya sebagai warisan hewani, roh dan raga kehilangan martabatnya. Dan bila ia mengingkari roh dan dengan demikian memandang materi, tubuh sebagai satu-satunya realitas, ia juga kehilangan keagungannya. Gassendi, penganut ajaran Epikurus, sambil bergurau menyapa Descartes dengan “hai roh”. Dan Descartes membalas dengan “hai, tubuh!”3

Tetapi bukan roh atau tubuh yang mengasihi – melainkan manusia. Pribadi mengasihi sebagai satu makhluk yang mencakup keduanya. Hanya dalam penyatuan sesungguhnya manusia menjadi dirinya sendiri. Hanya demikian kasih – eros – dapat berkembang menjadi matang dan agung.

Dewasa ini agama kristiani masa lampau sering dituduh memusuhi kejasmanian, dan kecenderungan arah ini juga selalu ada. Namun cara mendewa-dewakan tubuh yang kita alami sekarang, menipu. Eros yang dilecehkan menjadi seks menjadi barang, benda saja, yang dapat dibeli dan dijual. Manusia sendiri dalam pada itu menjadi barang. Sebetulnya hal ini justru bukan sikap positif manusia terhadap tubuhnya. Sebaliknya! Ia menganggap tubuh dan seksualitas semata-mata sebagai kejasmanian yang dikerahkan-nya dan dipakainya dengan perhitungan. Itu bukan ruang kebebasannya, melainkan sebagai sesuatu yang dengan caranya sendiri dicobanya dijadikan sumber kenikmatan dan dihancurkannya. Sebenarnya kita berhadapan dengan pelecehan tubuh manusia yang tidak diintegrasikan dalam keseluruhan kebebasan hidup kita, bukan lagi ungkapan hidup keseluruhan eksistensi kita, melainkan dimerosotkan menjadi hal biologis belaka. Penghargaan semu terhadap tubuh dapat cepat berubah menjadi kebencian terhadapnya. Sebaliknya iman kristiani senantiasa memandang manusia sebagai dwitunggal; padanya roh dan materi saling meresapi dan dengan demikian keduanya mengalami keluhuran baru. Ya, eros ingin menarik kita kepada yang ilahi, membawa kita mengatasi diri sendiri, maka ia menuntut jalan menaik, pantang, pembersihan dan penyembuhan.

6.Bagaimana kita harus secara praktis membayangkan jalan kenaikan dan pembersihan ini? Bagaimana kasih harus dihayati, agar janji insani dan ilahinya terpenuhi? Petunjuk penting pertama dapat kita temukan dalam Kidung Agung, kitab Perjanjian Lama yang dikenal para mistisi. Menurut kebanyakan pendapat dewasa ini syair-syair kitab ini semula nyanyian asmara, yang barangkali konkret dimaksudkan untuk pesta perkawinan Israel; pada kesempatan itu kasih suami-istri dijunjung tinggi. Amat instruktif bahwa dalam menyusun kitab ini dipakai dua kata untuk “kasih”. Pertama kata “dodim” – bentuk jamak, yang diganti dengan kata “ahaba” yang dalam terjemahan Yunani Perjanjian Lama diselan dengan kata yang bunyinya hampir sama “Agape” dan - seperti kita lihat - menjadi kata pengenal untuk pemahaman alkitabiah kasih. Berbeda dengan kasih yang masih tak mencari dan tak menentu dalam kata “Agape” diungkapkan pengalaman kasih, yang kini sungguh berarti menemukan sesama dan dengan demikian mengatasi unsur egoistis yang semula masih jelas ada. Kasih kini menjadi keprihatinan dan perhatian bagi orang lain. Ia tak lagi mencari diri sendiri – yakni tenggelam dalam kemabukan kebahagiaan -, melainkan apa yang baik bagi yang dikasihi. Ia menjadi pantang, ia bersedia berkurban, ia menghendakinya.

Jalan kenaikan kasih dan pemurniannya batinnya berarti bahwa kasih menghendaki keadaan definitif, dalam dua arti: dalam arti eksklusivitas – “hanya orang satu ini” – dan dalam arti “untuk selamanya.” Seluruh eksistensi dicakupnya dalam semua dimensinya, juga dimensi yang menyangkut waktu. Hal ini tak bisa lain, karena janjinya menyangkut keadaan definitif: Kasih menghendaki keabadian, Ya, kasih adalah “ekstase”, tetapi ekstase tidak dalam arti saat kemabukan, melainkan ekstase sebagai jalan tetap dari kungkungan diri sendiri ke penganugerahan diri, untuk penyerahan dan justru karena itu penemuan diri, ya, sampai menemukan Allah: “Barangsiapa berusaha menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya, akan menyelamatkannya” (Lk 17: 33), kata Yesus – perkataan yang dalam pelbagai variasi kembali dalam injil-injil (bdk. Mt 10: 39; 16: 25; Mk 8. 35; Lk 9: 24; Yoh 12: 25). Dengan itu Yesus melukiskan jalan-Nya sendiri, yang melalui salib sampai kepada kebangkitan – jalan biji gandum, yang jatuh ke dalam tanah dan mati, dan dengan demikian menghasilkan buah melimpah, tetapi ia melukiskan juga hakikat kasih dan eksistensi manusia pada umumnya, dari pusat kurban-Nya sendiri dan di dalamnya kasih yang menuntaskan dirinya.

7.Perenungan kita tentang hakikat kasih yang semula bersifat filosofis membawa kita kepada iman alkitabiah. Pada awal pertanyaannya ialah, apakah arti kata kasih yang berbeda-beda, ya bahkan bertentangan itu mengacu kepada suatu kesatuan atau apakah arti-arti itu hanya berdampingan tanpa hubungan, tetapi terutama pertanyaan, apakah amanat kasih yang diwartakan Kitab Suci dan tradisi Gereja mempunyai hubungan dengan pengalaman umum manusia akan kasih atau barangkali berlawanan dengannya. Dalam pada itu kita menjumpai kedua kata dasar Eros sebagai lukisan kasih “duniawi” dan Agape sebagai ungkapan kasih yang berdasarkan iman dan diresapinya. Keduanya seringkali juga dipertentangkan sebagai kasih dalam garis naik dan kasih dalam garis menurun, dekat dengan sikap-sikap lain seperti pembedaan antara kasih yang mengingini dan kasih yang memberi (amor concupiscentiaeamor benevolentiae); padanya masih ditambahkan kasih yang mengarah pada manfaat.

Dalam diskusi filosofis dan teologis pembedaan ini seringkali dipertajam menjadi perten-tangan. Yang kristiani ialah kasih yang menurun dan memberi, Agape, sedangkan tak kristiani, terutama budaya Yunani yang diwarnai kasih menaik, mengingini, Eros. Bila pertentangan ini dijalankan secara radikal, ciri khas agama kristiani dicabut dari konteks mendasar kemanusiaan dan dijadikan dunia tersendiri, yang memang dapat dianggap mengagumkan, tetapi terpotong dari keseluruhan eksistensi kemanusiaan. Sesungguhnya eros dan agape – kasih menaik dan menurun – tak pernah dapat dipisahkan satu sama lain. Semakin keduanya tampil menyatu sewajarnya dalam dimensi berbeda dalam realitas kasih yang sama, semakin terwujudlah hakikat kasih sejati. Bila eros pada permulaan terutama menuntut dan pada garis menaik, pesona oleh janji besar kebahagiaan – maka dalam mendekati orang lain makin sedikit memperhatikan diri sendiri, makin menghendaki kebahagiaan orang lain, makin memperhatikannya, menganugerah-kan diri, mau berada baginya. momen agape menjadi bagiannya, kalau tidak ia gugur dan juga kehilangan hakikatnya. Sebaliknya manusia tak bisa hidup dalam kasih yang menurun. Ia tak dapat selalu hanya memberi, ia juga harus menerima. Barangsiapa mau menganugerahkan kasih, harus sendiri dianugerahi. Memang, manusia bisa- seperti kata Tuhan kepada kita – menjadi sumber, dari mana arus air hidup datang (bdk. Yoh 7: 37-38). Namun agar ia menjadi sumber seperti itu, ia sendiri harus selalu minum dari sumber asli – pada Yesus Kristus; dan dari hati-Nya yang terbuka mengalir kasih Allah sendiri (bdk. Yoh 19: 34)

Para Bapa Gereja melihat kaitan tak terpisahkan antara kasih menaik dan menurun, antara eros yang mencari Allah dan agape yang meneruskan penganugerahan diri menurut pelbagai cara dilambangkan dalam cerita tangga Yakob. Dalam teks alkitabiah ini dikisahkan bahwa batrik Yakob dalam mimpi tentang batu yang dipakainya sebagai bantal melihat tangga yang menjulang sampai ke langit; dan malaikat turun naik di tangga itu (bdk.Kej 28: 12; Yoh 1: 51). Amat mengesankan tafsiran mimpi ini yang diberikan Paus Gregorius Agung dalam Regula Pastoral-nya. Gembala yang baik, katanya kepada kita, harus berakar dalam kontemplasi. Karena hanya dengan demikian mungkinlah baginya, menampung kesusahan orang lain dalam hatinya, sehingga menjadi miliknya: “per pietatis viscera in se infirmitatem caeterorum transferat.”4 Dalam pada itu Gregorius menunjuk Paulus yang membiarkan dirinya diangkat ke misteri-misteri terbesar Allah dan justru dengan demikian turun menjadi segalanya bagi semua (bdk.2 Kor 12: 2-4; 1 Kor 9: 22). Untuk itu ia menyebut contoh Musa, yang berulang kali masuk kemah dan berbicara dengan Allah, untuk dapat dengan berpangkal pada Allah membantu umatnya. “Di dalam (kemah) ia diangkat perenungan, di luar (kemah) ia membiarkan dirinya didesak beban mereka yang menderita – intus in contemplationem rapitur, foris infirmantium negotiis urgetur.”5

8.Dengan begitu kita mendapat jawaban pertama yang masih umum atas kedua soal yang disebut di atas: Pada akhirnya “kasih” merupakan satu realitas, tetapi ada pelbagai dimensi – setiap kali hanya salah satu yang dapat lebih menonjol. Namun di mana kedua dimensi sama sekali terpisah, timbullah karikatur atau paling sedikit bentuk kekurangan kasih. Dan kita juga pada dasarnya sudah melihat, bahwa iman alkitabiah membangun dunia di samping atau melawan gejala manusiawi kasih, melainkan menerima manusia seutuhnya, campur tangan seraya memurnikan dalam mencari kasih dan membuka dimensi baru. Kebaruan iman alkitabiah ini terutama tampak pada dua butir yang patut dikemukakan: dalam gambaran tentang Allah dan manusia.

Kebaruan iman alkitabiah

9.Pertama gambaran baru tentang Allah. Dalam budaya-budaya, yang mengelilingi dunia Kitab Suci, gambaran tentang Allah dan dewa-dewa pada akhirnya tak jelas atau bertentangan. Di jalan iman alkitabiah selalu menjadi makin jelas dan pasti, apa yang diliputi doa dasar Israel, schema, dalam kata-kata: “Dengarlah Israel, Tuhan, Allah kita, Tuhan hanya satu” (Ul 6: 4). Hanya ada satu Allah, Pencipta langit dan bumi dan karenanya juga Allah semua orang. Dua hal presisi ini tiada taranya, bahwa sungguh semua dewa lainnya bukan Allah dan bahwa seluruh realitas di mana kita hidup, mengacu kepada Allah, diciptakan oleh-Nya. Tentu gagasan penciptaan juga terdapat di tempat lain, tetapi hanya di sini menjadi amat jelas, bahwa bukan sembarang Allah, melainkan satu-satunya Allah yang benar sendiri Pencipta seluruh realitas, bahwa realitas ini berasal dari kuasa Sabda-Nya yang menciptakan. Ini berarti, bahwa ciptaannya ini dikasihi-Nya, karena dikehendaki-Nya sendiri, “dibuat” oleh-Nya. Dengan itu tampillah unsur penting kedua. Allah ini mengasihi manusia. Kekuasaan ilahi, yang pada puncak filsafat Yunani dicoba diselami Aristoteles dengan berpikir, memang merupakan objek keinginan dan kasih bagi semua yang ada – sebagai yang dikasihi keilahian ini menggerakkan dunia6 -, tetapi ia sendiri tak membutuhkan apa-apa dan tidak mengasihi, melainkan hanya dikasihi. Allah esa yang diimani Israel, mengasihi. Kasihnya memilih-milih: Dari semua bangsa ia memilih Israel dan mengasihinya – memang dengan tujuan, justru dengan demikian menyelamatkan seluruh dunia. Ia mengasihi, dan kasihnya ini dapat disebut Eros, yang sekaligus seutuhnya Agape.7

Terutama nabi Hosea dan Yehezkiel melukiskan kasih Allah bagi umat-Nya dengan gambaran erotis yang berani. Hubungan antara Allah dan Israel dilukiskan sebagai kemempelaian dan perkawinan; maka dari itu penyembahan berhala adalah zinah dan pelacuran. Seperti kita lihat, dengan itu dimaksudkan upacara kesuburan dengan penyalahgunaan Eros, tetapi juga dilukiskan hubungan kesetiaan antara Israel dan Allahnya. Kisah kasih Allah dengan Israel paling mendalam terwujudkan dalam hal bahwa Allah memberikan thora kepadanya, artinya, membuka matanya bagi hakikat sejati manusia dan menunjukkan jalan kemanusiaan sejati; kisah ini berarti bahwa manusia hidup dalam kesetiaan kepada Allah dan mengalami diri sebagai dikasihi Allah, dan menemukan kegembiraan akan kebenaran, akan keadilan – sukacita akan Allah, yang menjadi kebahagiaannya yang sejati: “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah” (Mzm 73 (72): 25. 28).

10.Eros Allah bagi manusia – seperti kami katakan – adalah sekaligus Agape seutuhnya. Tak hanya karena dianugerahkan sema sekali bebas dan tanpa jasa sebelumnya, melainkan juga karena ia kasih yang menghabiskan.

Terutama Hosea menunjukkan kepada kita dimensi Agape kasih Allah kepada manusia yang jauh mengatasi aspek kecuma-cumaan. Israel telah berzinah – perjanjian; sebetulnya Allah menghakiminya, menolaknya. Namun justru sekarang nyata bahwa Allah itu Allah dan bukan manusia: “Masakan Aku membiarkan engkau Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel?.. Hatiku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia. Yang Kudus di tengah-tengahmu” (Hos 11: 8-9). Kasih bernyala-nyala Allah kepada umat-Nya – manusia – adalah sekaligus kasih yang mengasihi. Kasih ini begitu besar, sehingga melawan diri sendiri, kasih-Nya melawan keadilan-Nya. Orang kristiani melihat di dalamnya sudah tersembunyi misteri salib: Allah mengasihi manusia sedemikian rupa, sehingga ia sendiri menjadi manusia, mengikutinya sampai kematian dan secara itu mendamaikan keadilan dan kasih.

Hal yang menurut filsafat dan sejarah agama-agama menarik pada pandangan Kitab Suci ini adalah bahwa kita di satu pihak mempunyai gambaran metafisik tentang Allah: Allah sebagai sumber induk segala yang ada; tetapi asal-usul yang menciptakan segalanya ini – Logos, Akalbudi induk – adalah sekaligus pengasih dengan kasih yang bernyala-nyala.

Dengan itu eros dimuliakan, tetapi sekaligus dimurnikan sedemikian rupa sehingga terlebur dengan agape. Dari situ kita dapat mengerti bahwa penerimaan Kidung Agung itu dalam kanon Kitab Suci sudah dini ditafsirkan dalam arti bahwa nyanyian-nyanyian asmara itu pada akhirnya melukiskan hubungan Allah terhadap manusia dan manusia terhadap Allah. Secara itu Kidung Agung dalam kepustakaan yahudi dan kristiani menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman mistik, di mana terungkap hakikat iman alkitabiah: Ya, ada persatuan ini bukan peleburan, hilang dalam samodra tak bernama keilahian, melainkan persatuan yang menciptakan kasih, di mana keduanya – Allah dan manusia – tetap mereka sendiri, tetapi toh menjadi satu: “Barangsiapa menganut Tuhan, menjadi satu roh dengannya”, kata Santo Paulus (1 Kor 6: 17).

11.Kebaruan pertama iman alkitabiah terletak – seperti kita lihat, dalam gambaran tentang Allah; kebaruan kedua, yang instrinsik berkaitan dengan yang pertama, kita temukan dalam gambaran tentang manusia. Kisah penciptaan Kitab Suci berbicara tentang kesepian manusia pertama, Adam, yang diberi Allah seorang pendamping. Tak satupun dari semua makhluk dapat memberikan bantuan ini kepada manusia, meskipun ia melibatkan semua hewan lapangan dan semua burung di udara dengan demikian ke dalam lingkungan hidupnya. Lalu Allah membentuk perempuan dari tulang rusuk pria. Kini Adam mendapatkan pendamping yang diperlukannya: “Akhirnya inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2: 23). Di balik itu bisa ada gambaran seperti yang tampil dalam mitos yang diceritakan Plato, manusia aslinya bulat, artinya terkung-kung dalam dirnya sendiri dan mencukup dirinya sendiri, tetapi diparuh oleh Zeus untuk menghukum kesombongannya, sehingga ia selalu merindukan belahannya, mencarinya untuk kembali menjadi keseluruhan.8 Dalam berita alkitabiah tidak disebut hukuman, tetapi ada gagasan bahwa manusia itu tidak lengkap – berada dalam perjalanan mendapatkan keseluruhan dalam orang lain; bahwa ia menjadi “utuh” hanya dalam kebersamaan pria dan perempuan. Maka dari itu kisah alkitabiah berakhir dengan ramalan tentang Adam: “Maka pria meninggalkan ibu bapanya dan bersatu dengan istrinya dan keduanya menjadi satu daging” (Kej 2: 24).

Dua hal penting di sini: Eros berakar dalam hakikat manusia sendiri; Adam mencari dan “meninggalkan ayah dan ibu”, untuk mendapatkan perempuan; baru bersama-sama keduanya merupakan keutuhan eksistensi manusia, bersama-sama menjadi “satu daging”. Kalimat kedua tak kalah penting: Eros menunjuk manusia dari penciptaan kepada perkawinan, ikatan yang satu dan definitif. Demikianlah, hanya demikianlah hakikatnya terpenuhi. Perkawinan monogam sejalan dengan gambaran monoteistis tentang Allah. Perkawinan yang berdasarkan kasih eksklusif dan definitif menjadi lukisan hubungan Allah terhadap umat-Nya dan sebaliknya: cara Allah mengasihi menjadi tolok-ukur kasih insansi. Pengaitan mantap eros dan perkawinan dalam Kitab Suci hampir tak menemukan tandingan dalam kepustakaan luar Kitab Suci.

Yesus Kristus – Kasih Allah yang menjelma menjadi manusia

12.Sampai sekarang kita memang berbicara terutama tentang Perjanjian Lama, tetapi selalu sudah nampak peresapan keduaPerjanjian itu sebagai satu Kitab iman kristiani. Kebaruan sesungguhnya dari Perjanjian Baru bukanlah gagasan baru, melainkan tokoh Kristus sendiri, yang memberi kepada gagasan darah dan daging, realisme yang baru. Sudah dalam Perjanjian Lama kebaruan alkitabiah tak terletak dalam gagasan, melainkan dalam tindakan Allah yang terduga dan dalam arti tertentu tak pernah terdengar. Tindakan Allah ini mengambil bentuk dramatis dalam hal bahwa Allah dalam Yesus Kristus sendiri mencari “domba yang hilang”, umat manusia yang menderita dan hilang. Bila Yesus dalam perumpamaan berbicara tentang gembala, yang mencari domba yang hilang, perempuan yang mencari dirham, bapa yang menyambut anak yang hilang dan memeluknya, maka itu semua bukan hanya kata-kata, melainkan penjelasan tentang diri-Nya dan tindakan-Nya. Dalam wafat-Nya di salib terwujudlah sikap Allah terhadap diri-Nya sendiri; ia menganugerahkan diri untuk mengangkat dan menyelamatkan manusia – kasih dalam bentuk paling radikal. Pandangan kepada sisi Yesus yang ditembus yang diberitakan Yohanes (bdk. 19: 37), mengerti apa yang menjadi pangkal tulisan ini: “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4: 8). Di situ kebenaran ini dapat dilihat.

Dan dari situ kini dapat didefinisikan, apa kasih itu. Sejak saat itu orang kristiani menemukan jalan kehidupan dan kasihnya.

13.Tindakan penyerahan diri ini oleh Yesus dilestarikan dengan pengadaan Ekaristi pada Perjamuan Malam Terakhir. Ia mengantisipasi wafat dan kebangkitan-Nya, dengan sudah pada saat itu memberikan diri-Nya kepada para murid dalam rupa roti dan anggur, Tubuh dan Darah-Nya sebagai manna baru (bdk.Yoh 6: 31-33). Bila dunia kuno bermimpi bahwa makanan manusia sesungguhnya – apa yang menghidupinya sebagai manusia – adalah logos, akabudi abadi; Kini Logos ini sungguh menjadi santapan bagi kita – sebagai kasih. Ekaristi melibatkan kita dalam tindakan peneyerahan diri Yesus. Kita tak hanya secara statis Logos yang menjelma, melainkan diikutsertakan dalam dinamika penyerahan diri-Nya. Gambaran tentang perkawinan antara Allah dan Israel menjadi kenyataan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan: Dari berhadapan dengan Allah oleh persekutuan dengan Tubuh dan Darah oleh penyerahan diri Yesus menjadi persatuan: “Mistik” sakramen yang berdasarkan kedatangan Allah kepada kita, lebih jauh dan lebih tinggi daripada yang dapat dicapai setiap pertemuan manusia.

14.Namun harus diperhatikan lebih lanjut: “Mistik” sakramen mempunyai sifat sosial. Karena dalam komuni aku disatukan dengan Tuhan seperti semua penyambut komuni lainnya: “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu”, kata Santo Paulus ( 1 Kor 10: 17). Persatuan dengan Kristus sekaligus adalam persatuan dengan semua lainnya, yang dianugerahi diri-Nya. Aku tak dapat mempunyai Kristus hanya bagi diriku, aku dapat menjadi miliknya hanya dalam persekutuan dengan semua, yang menjadi milik-Nya atau mau menjadi milik-Nya. Komuni mencabut aku dari diriku kepada-Nya dan dengan itu sekaligus kepada persatuan dengan semua orang kristiani. Kita menjadi “satu tubuh”, eksistensi yang terlebur menjadi satu. Kasih akan Allah dan akan sesama menyatu: Allah yang menjadi manusia menarik kita semua kepada diri-Nya. Dari situ menjadi jelas, bahwa Agape kini juga menjadi sebutan untuk ekaristi: Di dalamnya agape Allah menyelam bagi kita untuk bekerja terus dalam dan melalui kita. Hanya dengan berpangkal pada dasar kristologis-sakramental ini orang dapat memahami ajaran Yesus tentang kasih. Usahanya merangkup hukum dan nabi-nabi menjadi perintah ganda kasih akan Allah dan sesama, pemusatan seluruh hidup beriman dengan berpangkal pada tugas ini bukanlah hanya moral yang secara mandiri berada di samping iman kepada Kristus dan di samping hadirat-Nya dalam sakramen: iman, ibadat dan etos saling merasuki sebagai satu realitas yang dalam perjumpaan dengan Allah membentuk Agape. Penentangan yang lazim antara ibadat dan etos kini gugur: Dalam “ibadat” sendiri, dalam persekutuan ekaristis terkandung hal dikasihi dan terus mengasihi. Ekaristi yang tidak menjadi tindakan praktis kasih, terkoyak-koyak, dan sebaliknya – seperti masih akan dibahas lebih panjang lebar - perintah kasih hanya mungkin, karena bukan hanya tuntutan: kasih dapat “diperintahkan”, karena lebih dulu dianugerahkan.

15.Dari situ juga dapat dimengerti perumpamaan besar Yesus orang kaya (bdk. Lk 16: 19-31) mohon dari tempat hukuman agar kepada saudara-saudaranya diwartakan, bagaimana keadaan orang yang mengabaikan orang miskin yang menderita kekurangan. Yesus seolah-olah mengangkat teriakan mohon bantuan itu dan membawanya kepada kita untuk memperingatkan kita, untuk meluruskan jalan kita. Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati (bdk. Lk 10: 25-37) membawa terutama dua pen- jernihan. Paham “sesama” hingga kini pada dasarnya diterapkan pada orang-orang sebangsa dan orang-orang asing yang hidup di negeri Israel, jadi atas persekutuan solidaritas suatu negeri dan bangsa, kini batas ini dihapus” Setiap orang, yang membutuhkan aku dan kubantu, adalah sesamaku. Paham “sesama” diperluas menjadi umum tetapi tetap konkret. Meskipun diperluas meliputi semua orang paham sesama itu tidak menjadi ungkapan untuk kasih kepada orang jauh dan tak mengikat., melainkan menuntut keterlibatan praktis sekarang dan di sini. Adalah tetap tugas Gereja menafasirkan kaitan jauh dekat ini dalam kehidupan praktis para anggotanya. Akhirnya masih harus disebut perumpamaan besar adegan pengadilan terakhir (bdk. Mt 25: 31-46); di dalamnya kasih menjadi tolok-ikur keputusan definitif tentang nilai hidup manusia. Yesus menyamakan diri dengan mereka yang menderita kekurangan: orang lapar, orang haus, orang asing, orang telanjang, orang sakit, orang tahanan. “Apa yang kamu lakukan bagi saudaraku yang paling hina, kamu lakukan bagiku” (Mt 25: 40). Kasih akan Allah dan akan sesama terlebur. Dalam saudara yang paling hina kita menjumpai Yesus sendiri dan dalam Yesus kita menjumpai Allah.

Kasih akan Allah dan akan sesama

16.Sesudah semua perenungan ini tentang hakikat kasih dan penafsirannya dalam iman alkitabiah tinggal pertanyaan ganda sehubungan dengan perilaku kita. Dapatkah kita mengasihi Allah yang tidak kita lihat? Dan: dapatkah kasih diperintahkan? Melawan perintah ganda kasih dalam pertanyaan-pertanyaan ini terdengar dua keberatan. Tak seorangpun pernah melihat Allah – bagaimana kita dapat mengasihinya? Dan: selanjut-nya: Kasih tak dapat diperintahkan, kasih itu perasaan, yang ada atau tidak ada, tetapi tidak dapat diciptakan oleh kemauan. Kitab Suci rupanya meneguhkan keberatan pertama, bila tertulis: “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah’ dan ia membenci saudara-nya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya” (1 Yoh 4: 20).

Tetapi teks ini sama sekali tidak menyisihkan kasih akan Allah sebagai sesuatu yang mustahil – sebaliknya, digarisbawahi keterkaitan tak terpisahkan antara kasih akan Allah dan akan sesama – sebaliknya, kasih eksplisit dituntut sehubungan dengan Surat pertama Yohanes yang baru dikutip. Keduanya merupakan kesatuan sedemikian rupa, sehingga mengatakan mengasihi Allah tetapi menutup dirinya kepada sesama atau bahkan membencinya menjadi dusta, Ayat Yohanes ini harus ditafsirkan lebih dalam arti bahwa kasih akan sesama adalah jalan juga menjumpai Allah, dan bahwa memalingkan diri dari sesama juga membuat buta terhadap Allah.

17.Memang benar: Tak seorangpun pernah melihat Allah seperti adanya. Meskipun demikian Allah tidak samasekali tak tampak bagi kita, tidak sama sekali tak terjangkau. Allah lebih dahulu mengasihi kita, kata Surat Yohanes yang baru dikutip (bdk. 4: 10), dan kasih Allah ini sudah menampakkan diri di tengah kita, menjadi kelihatan karena ia “mengutus putra tunggal-Nya ke dalam dunia, agar kita hidup olehnya” 1 (Yoh 4: 9). Allah telah membuat diri-Nya kelihatan: Dalam Yesus kita dapat melihat Bapa (bdk.Yoh 14: 9) Ada pelbagai macam penampakan Allah. Dalam kisah kasih yang diberitakan Kitab Suci kepada kita, ia menjemput kita, merayu kita – sampai Perjamuan Malam Terakhir, sampai hati tertembus di salib, sampai penampakan Yesus yang bangkit dan tindakan-tindakan besar-Nya; dengan itu ia membimbing Gereja melalui pelayanan para rasul. Dan dalam sejarah selanjut dari Gereja Tuhan tetap hadir: Setiap kali ia menghampiri kita – melalui orang-orang yang memancarkan-Nya, oleh Sabda, dalam sakramen-sakramen, terutama dalam ekaristi. Dalam liturgi Gereja, dalam doanya, dalam persekutuan kaum beriman yang hidup kita mengalami kasih Allah, kita menyadarinya dan belajar mengenal kehadirannya dalam hidup kita sehari-hari. Ia lebih dulu mengasihi kita, maka juga kita dapat menanggapinya dengan kasih. Allah tidak memerintahkan perasaan, yang tidak bisa kita hasilkan. Ia mengasihi kita, menunjukkan kasih-Nya yang kita rasakan, dan dari “lebih dahulu” kasih Allah ini dapatlah dalam diri kita bersemi kasih sebagai jawaban.

Selain itu dalam proses pertemuan ini juga jelas, bahwa kasih bukan hanya perasaan. Perasaan datang dan pergi. Perasaan dapat menjadi pemicu yang dahsyat, tetapi bukan keseluruhan kasih. Pada awal kami telah bicara mengenai proses pemurnian dan pematangan, yang membuat eros menjadi dirinya sendiri, kasih dalam arti sepenuhnya. Kasih yang matang melibatkan semua kekuatan manusia, mengintegrasikan manusia dalam keseluruhannya. Pertemuan dengan penampakan kasih Allah dapat membangkitkan dalam diri kita rasa gembira, yang berasal dari pengalaman dikasihi. Namun juga kehen-dak dan akalbudi kita dilibatkan. Pengetahuan tentang Allah yang hidup adalah jalan kasih, dan persetujuan kehendak kita terhadap kehendak-nya mempersatukan akalbudi, kehendak dan perasaan menjadi tindakan kasih seutuhnya. Inilah peristiwa yang senantiasa tetap dalam perjalanan. Kasih tak pernah selesai dan tuntas; kasih berubah dengan perjalanan hidup, menjadi matang dan justru karena itu tetap setia pada dirinya sendiri. Idem velle atque idem nolle9 – menghandaki dan tidak menghendaki yang sama - itulah yang digariskan kaum kuno sebagai isi kasih: menjadi semakin mirip satu sama lain, yang membawa kepada kebersamaan kehendak dan pemikiran. Kisah kasih antara Allah dan manusia justru berarti bahwa persekutuan kehendak ini berkembang menjadi persekutuan pemikiran dan perasaan dan dengan demikian kemauan kita dan kemauan Allah makin menyatu: kehendak Allah bukan lagi kehendak asing bagiku, yang memaksakan perintah dari luar, melainkan kehendakku sendiri berpangkal pada pengalaman bahwa memang benar Allah lebih dekat padaku daripada aku sendiri.10 Maka penyerahan diri kepada Allah tumbuh. Maka Allah menjadi kebahagiaanku (bdk. Mzm 73 (72) 23-28).

18.Demikianlah kasih akan sesama dalam arti yang diwartakan oleh Kitab Suci, oleh Yesus menjadi mungkin. Kasih ini berarti bahwa aku mengasihi juga sesama manusia yang semua tidak kusukai atau bahkan tidak kukenal, dengan berpangkal pada Allah. Itu hanya mungkin dari pertemuan batin dengan Allah, yang menjadi persekutuan kehendak dan menjangkau sampai pada perasaan. Maka aku belajar melihat orang lain itu tidak lagi hanya dengan mata dan perasaanku, melainkan dari perspektif Yesus Kristus. Sahabat-Nya adalah sahabatku. Aku menembus apa yang lahiriah dan melihat harapannya akan isyarat kasih – akan perhatian, yang tak hanya kusalurkan melalui organisasi yang berwenang dan barangkali kusetujui sebagai keharusan politik. Kau melihat bersama Kristus dan dapat memberi kepada orang lain itu lebih daripada hanya hal-hal yang secara lahiriah perlu: pandangan kasih yang dibutuhkannya. Di sini nampak interaksi yang perlu antara kasih akan Allah dan akan sesama, yang dibahas demikian mendesak dalam Surat pertama Yohanes. Bila sentuhan dengan Allah sama sekali tak ada dalam hatiku, maka dalam orang lain aku selalu hanya dapat melihat orang lain dan tak dapat mengenal gambaran ilahi dalam dirinya. Bila aku menyingkirkan perhatian kepada sesama dari hidupku sama sekali dan hanya mau “saleh”, melakukan “kewajiban-kewajiban religius-ku” maka juga hubungan dengan Allah mengering. Maka ia hanya “benar”, tetapi tanpa kasih. Hanya kesediaanku menghampiri sesama, menunjukkan kasih kepadanya, juga membuat aku peka terhadap Allah. Hanya pelayanan kepada sesama membuka mataku akan apa yang dilakukan Allah bagiku dan bagaimana ia mengasihi aku. Para Kudus – misalnya beata Teresa dari Kalkuta – selalu menimba lagi kemampuan untuk mengasihi sesama dari pertemuan dengan Tuhan ekaristis, dan sebaliknya pertemuan ini mendapat realisme dan kedalaman dari pelayanan kepada sesama. Kasih akan Allah dan akan sesama tak terpisahkan. Keduanya hanya satu perintah. Namun keduanya hidup dari kasih Allah yang menyongsong dan mendahului. Maka itu bukan lagi “perintah” dari luar, yang memerintahkan sesuatu yang mustahil, melainkan pengalaman kasih dari dalam yang dianugerahkan, yang menurut hakikatnya harus terus memberi. Kasih tumbuh oleh kasih. Kasih itu “ilahi”, karena berasal dari Allah dan menyatukan kita dengan Allah, membuat kita dalam proses penyatuan ini menjadi kita, yang mengatasi perpisahan dan menyatu-kan kita, sehingga pada akhirnya :Allah menjadi segala dalam semua” (bdk. 1 Kor 15: 28).

Bagian Kedua

CARITAS, KARYA KASIH GEREJA SEBAGAI “PERSEKUTUAN KASIH”

Karya kasih Gereja sebagai ungkapan kasih trinitaris

19.“Bila kaumelihat kasih, engkau melihat Tritunggal Mahakudus”, tulis Agustinus.11 Dalam perenungan di depan kita dapat mengarahkan pandangan kita kepada lambung Yesus yang terbuka, kepada “yang telah mereka tikam” (bdk. Yoh 19: 37; Za 12: 10), dan mengenal rencana Bapa, yang karena kasih (bdk. Yoh 3: 16) telah mengutus putra-Nya yang tunggal ke dunia, untuk menebus manusia. Dalam wafat-Nya di salib Yesus seperti kisah Penginjil, “menyerahkan nyawa-Nya” (bdk. Yoh 19: 30) – inilah persiapan untuk penganugerahan Roh Kudus, yang diwujudkan-Nya setelah kebangkitan-Nya (bdk. Yoh 20: 22). Demikianlah terpenuhi janji “arus air hidup”, yang berkat pencurahan Roh mengalir dari dalam kaum beriman (bdk. Yoh 7: 38-39). Roh adalah kekuatan dalam, yang menyerasikan hatimu dan Hati Kristus dan menggerakkannya mengasihi sesama manusia, seperti Ia telah mengasihi mereka., ketika Ia membungkuk untuk membasuh kaki para murid (bdk. Yoh 13: 1-13), dan terutama ketika Ia mengurbankan hidup-Nya bagi semua (bdk. Yoh 13: 1; 1: 15. 13).

Roh adalah juga kekuatan baru, yang mengubah hati persekutuan gerejawi, agar di dunia memberikan kesaksian tentang kasih Bapa, yang mau membuat umat manusia dalam putra-Nya menjadi satu keluarga. Semua tindakan Gereja adalah ungkapan kasih, yang mengusahakan kesejahteraan seutuhnya manusia: evangelisasinya melalui Sabda dan sakramen-sakramen – suatu usaha yang dalam perwujudannya dalam sejarah sering herois - dan dukungan serta perkembangannya di pelbagai bidang kehidupan dan kerja manusia. Demikianlah kasih merupakan pengabdian yang dikembangkan Gereja untuk terus-menerus menanggapi penderitaan dan kekurangan materiil manusia. Aspek ini, pengabdian kasih ini hendak kami bahas lebih lanjut dalam bagian kedua ensiklik ini.

Karya kasih sebagai tugas Gereja

20.Kasih akan sesama yang berakar dalam kasih akan Allah pertama-tama memang tugas setiap orang beriman, tetapi juga tugas bagi seluruh persekutuan gerejawi, pada semua tingkat, dari jemaat setempat melalui Gereja partikular sampai dengan Gereja universal. Juga Gereja sebagai persekutuan harus melaksanakan kasih. Hal ini pada gilirannya berarti bahwa kasih juga membutuhkan organisasi sebagai prasyarat untuk pelayanan bersama yang teratur. Kesadaran akan tugas ini dalam Gereja sejak semula konstitutif. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis 2: 44-45). Lukas mengisahkannya kepada kita dalam kaitan dengan semacam definisi Gereja yang sebagai unsur hakikinya disebutnya kesetiaan berpegang pada “ajaran para rasul” dan “persekutuan” (koinonia), “memecah roti” dan “doa-doa” (bdk. Kis 2: 42). Unsur “persekutuan” (koinonia) yang di sini tak diuraikan lebih lanjut dikonkretkan dalam ayat- ayat yang dikutip tadi: persekutuan mereka justru terletak dalam hal bahwa kaum beriman mempunyai semuanya bersama-sama dan bahwa perbedaaan antara miskin dan kaya di antara mereka tidak ada lagi (bdk. juga Kis 4: 32-37). Bentuk radikal persekutuan jasmani ini tak dapat dilanjutkan ketika Gereja mejadi makin besar. Namun intinya tetap: Dalam persekutuan kaum beriman tidak boleh ada kemiskinan sedemikian rupa sehingga orang tak mempunyai apa-apa yang perlu untuk hidup layak manusiawi.

21.Tahap menentukan dalam pergumulan untuk melaksanakan prinsip eklesial ini nampak dalam pemilihan ketujuh orang yang merupakan asal-usul jabatan diakon (bdk. Kis 6: 5-6). Dalam hal ini soalnya berkisar pada perbedaan dalam memelihara para janda yang timbul antara bagian Gereja Purba yang berbahasa Ibrani dan berbahasa Yunani. Para rasul yang terutama ditugaskan untuk mengurus “doa” (ekaristi dan liturgi) dan “pelayanan Sabda”, merasa kewalahan dengan “pelayanan meja”; maka mereka memutuskan untuk tetap melaksanakan tugas sentral dan untuk tugas lain yang juga diperlukan dalam Gereja menciptakan kelompok tujuh orang, yang tentu tak melak-sanakan tugas pembagian melulu teknis: Mereka itu haruslah orang-orang yang “penuh Roh dan hikmat” (Kis 6: 1-6). Ini berarti bahwa pelayanan sosial yang harus mereka laksanakan, pelayanan yang amat konkret, tetapi sekaligus rohani dan jabatan mereka sungguh jabatan rohani, yang melaksanakan tugas hakiki Gereja, yakni kasih akan sesama yang teratur. Dengan terbentuknya kelompok tujuh ini “diakonia” – pelayanan kasih bersama yang teratur – berakar dalam struktur dasar Gereja sendiri.

22.Dalam peredaran waktu dan perkembangan Gereja yang makin meluas pelayanan kasihnya, Caritas, sebagai sektor hakiki bersama dengan pengelolaan sakramen-sakramen dan pewartaan Sabda dibakukan: Melaksanakan kasih bagi para janda dan yatim-piatu, para tahanan, orang-orang sakit dan para penderita kekurangan apa saja, termasuk hakikat Gereja seperti pelayanan sakramen-sakramen dan pewartaan Injil. Gereja tak dapat mengabaikan pelayanan kasih seperti juga pelayanan sakramen-sakramen dan Sabda. Beberapa contoh kiranya cukup untuk menunjukkan ini. Martir Yustinus (+ kira-kira 155) melukiskan sehubungan dengan perayaan Minggu kaum kristiani juga pelayanan kasih mereka, yang dikaitkan dengan ekaristi. Mereka yang lebih mampu memberikan sesuai dengan kemungkinan mereka, sebanyak mereka mau, dengan hasilnya. Uskup menunjang para yatim-piatu, janda dan mereka yang karena sakit atau karena alasan lain berkekurangan, seperti juga para tahanan dan orang asing.12 Penulis kristiani besar Tertulianus (+ sesudah 220) menceritakan, bagaimana perhatian kaum kristiani bagi para penderita segala macam membangkitkan keheranan kaum kafir.13 Dan bila Ignatius Antiokhia (+ sekitar 117) menyebut Gereja Roma sebagai “Ketua dalam kasih (Agape)”14 bolehlah dengan pasti menarik kesimpulan bahwa dengan sebutan ini ia mau mengungkapkan juga pelayanan kasih konkretnya.

23.Dalam kaitan ini kiranya bermanfaat menunjukkan tokoh-tokoh kuno pelayanan kasih Gereja. Kira-kira pada pertengahan abad ke 4 di Mesir apa yang disebut “diakonia” itu mulai terbentuk; dalam biara-biara para rahib ia merupakan instansi yang bertanggung-jawab atas keseluruhan pelayanan kasih, Caritas. Dari awal itu berkembanglah di Mesir sampai abad ke 6 badan hukum yang dipercaya negara membagikan sebagian gandum untuk umum. Di Mesir akhirnya tak hanya setiap biara, melainkan juga setiap keuskupan mempunyai diakonianya sendiri – lembaga yang meluas baik di kawasan timur maupun di kawasan barat. Paus Gregorius Agung (+ 604) memberitakan diakonia di Napoli. Untuk Roma bukti-bukti adanya diakonia sejak abad ke 7 dan 8, tetapi dengan sendirinya pelayanan kasih bagi kaum miskin dan penderita sesuai dengan prinsip-prinsip hidup kristiani yang dikembangkan dalam Kisah para Rasul sudah sebelumnya dan sejak semula termasuk hakikat Gereja Roma. Tugas ini terungkap dalam sosok diakon Laurensius (+ 258). Lukisan dramatis kemartirannya sudah dikenal Santo Ambrosius (+ 397) .dan menunjukkan kepada kita pada intinya sosok otentik orang Kudus itu. Ia bertang-gungjawab atas pelayanan kasih di Roma sesudah penangkapan konfraternya dan Paus ia masih mempunyai waktu untuk mengumpulkan kekayaan Gereja untuk menyerahkannya kepada instansi-instansi dunia. Laurensius membagikan sarana yang tersedia kepada kaum miskin dan menunjukkan mereka ini kepada para penguasa sebagai kekayaan sejati Gereja.15 Bagaimanapun kepastian historis rincian semacam itu dinilai – Laurensius dikenang sebagai pengemban besar kasih gerejawi.

24.Pengacuan kepada sosok Kaisar Yulian Apostat (+ 363) dapat menunjukkan, betapa hakiki pelayanan kasih terorganisir dan praktis bagi Gereja kuno. Yulian sebagai anak umur enam tahun mengalami pembunuhan ayahnya, saudaranya dan sanak saudara lainnya oleh pasukan istana dan menyalahkan – benar atau tidak – Kaisar Konstansius, yang menyatakan diri sebagai orang kristiani. Dengan itu nama iman kristiani baginya jatuh. Sebagai kaisar ia memutuskan memulihkan kekafiran, agama romawi kuno, dan sekaligus membaruinya, agar dapat menjadi kekuatan yang menopang kerajaan. Untuk itu ia banyak meniru agama kristiani. Ia mendirikan hirarki yang terdiri dari Metropolit dan imam. Para imam harus memelihara kasih kepada Allah dan kepada sesama. Dalam salah satu suratnya16 ia menulis, satu-satunya yang mengesankan pada agama kriatiani, ialah pelayanan kasih Gereja. Maka bagi kekafirannya yang baru hal yang amat menentukan ialah menyaingi pelayanan kasih Gereja dengan karya serupa agamanya. Ia mengatakan: Orang-orang Galileia secara itu memperoleh popularitas. Orang harus meniru dan bahkan melebihi mereka. Dengan cara itu Kaisar meneguhkan bahwa pelayanan kasih, Caritas, adalah ciri khas jemaat kiristiani, Gereja.

25.Pada tahap ini kita pegang dua unsur hakiki dari perenungan kita:

a) Hakikat Gereja mengungkapkan diri dalam tiga tugas: pewartaan Sabda (kerygma-martyria), perayaan sakramen-sakramen (leiturgia), pelayanan kasih (diakonia). Tugas-tugas ini saling terkait dan tak terpisahkan. Pelayanan kasih bagi Gereja bukan semacam kegiatan amal, yang dapat diserahkan juga kepada pihak lain, melainkan termasuk hakikatnya, adalah ungkapan jatidirinya yang perlu.17

b) Gereja adalah keluarga Allah di dunia. Dalam keluarga ini tak boleh ada orang yang menderita kekurangan. Namun sekaligus Caritas-Agape melampaui batas-batas Gereja: Perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati tetap merupakan tolok-ukur, memerintahkan universalitas kasih, yang memperhatikan orang yang menderita kekurangan, yang “kebetulan” (bdk. Lk 10: 31) dijumpai, siapa pun dia. Tanpa mengurangi universalitas perintah kasih ada tugas spesifik Gereja – yakni bahwa dalam Gereja sendiri sebagai keluarga tak ada anak boleh menderita kekurangan. Dalam arti ini berlaku kata dari surat Paulus kepada umat di Galatia “Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (6: 10).

Keadilan dan kasih

26.Melawan pelayanan kasih Gereja sejak abad ke 19 diajukan keberatan, yang kemudian dikembangkan terutama dalam pemikiran marxistis. Orang miskin, katanya, tak membutuhkan karya kasih, melainkan keadilan. Karya kasih – sedekah – sebetulnya cara bagaimana kaum mampu meloloskan diri dari pemulihan keadilan, menenteramkan hati-nuraninya, mempertahankan kedudukannya dan kaum miskin ditipu dalam hal hak-hak-nya. Sebagai gantinya dengan karya-karya kasih membantu mempertahankan keadaan yang ada, lebih baik menciptakan tatanan yang adil, yang memungkinkan semua mendapat bagian dalam kekayaan dunia ini dan tak membutuhkan karya kasih itu lagi. Harus diakui bahwa argumentasi ini mengandung kebenaran, tetapi banyak yang juga salah. Benar bahwa prinsip negara adalah mengusahakan keadilan dan menciptakan tatanan kemasyarakatan yang adil, dengan mengindahkan prinsip subsidiaritas menjamin bagian dalam kekayaan masyarakat. Hal itu juga berulang kali ditekankan ajaran sosial dan kenegaraan kristiani. Soal tatanan masyarakat yang adil ditinjau dari sejarah, dengan terbentuknya masyarakat industri pada abad 19 memasuki situasi baru. Timbulnya industri modern telah membubarkan struktur kemasyarakatan lama dan dengan massa pekerja yang tergantung pada upah mengakibatkan perubahan radikal dalam pem-bangunan masyarakat; hubungan antara modal dan kerja menjadi soal yang menentukan; dalam bentuk ini soal ini belum pernah ada. Struktur produksi dan modal kini menjadi kekuasaan baru, yang di tangan sedikit orang, mengakibatkan massa pekerja tanpa hak; dan mereka melawannya.

27.Harus diakui bahwa para wakil Gereja baru berangsur-angsur menyadari bahwa soal struktur masyarakat yang adil muncul secara baru. Ada perintis, salah seorang dari mereka misalnya Uskup Ketteler dari Mainz (+ 1877). Sebagai jawaban atas kesulitan konkret timbul Lingkaran, Perkumpulan, Ikatan, Federasi dan terutama tarekat-tarekat baru, yang pada abad ke 19 menyatakan perang melawan kemiskinan, penyakit dan keadaan darurat pendidikan. Magisterium kepausan pada tahun 1891 tampil dengan ensiklik Paus Leo XIII Rerum Novarum. Kemudian diikuti ensiklik Paus Pius XI Quadragesimo Anno pada tahun 1931. Beato Paus Yohanes XXIII mengeluarkan ensikliknya Mater et Magistra pada tahun 1961, sedangkan Paulus VI dalam ensiklik Populorum Progressio (1967) dan surat apostolik Octogesima Adveniens (1971) menegaskan masalah sosial, yang kini menjadi tajam terutama di Amerika Latin. Pendahulu saya yang besar, Yohanes Paulus II meninggalkan trilogi ensiklik sosial: Laborem Exercens (1981), Sollicitudo Rei Socialis (1987) dan Centesimus Annus (1991). Demikianlah dalam pergumulan dengan keadaan-keadaan dan masalah-masalah baru tumbuh ajaran sosial katolik yang dalam Kompendium Ajaran Sosial Gereja yang disusun secara sistematis oleh Dewan Kepausan Untuk Keadilan dan Perdamaian. Marxisme mengajukan revolusi dunia dan persiapannya sebagai obat mujarab untuk masalah sosial: oleh revolusi dan oleh pengalihan sarana produksi ke dalam tangan masyarakat segalanya tiba-tiba menjadi lain dan lebih baik, demikian ajaran ini. Impian ini sudah selesai. Dalam keadaan sulit juga karena globalisasi ekonomi, ajaran sosial Gereja menjadi petunjuk mendasar, yang menawarkan orientasi jauh mengatasi lingkup Gereja. Mengingat perkembangan yang terus melaju harus bersama-sama digumuli orientasi ini dalam dialog dengan semua yang dengan serius prihatin atas manusia dan dunianya.

28.Untuk menerangkan dengan lebih tepat hubungan antara keadilan dan pelayanan kasih haruslah diperhatikan dua hal:

a) Tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan yang adil merupakan tugas sentral politik. Negara yang tidak didefinisikan oleh keadilan, adalah gerombolan besar perampok, seperti kata Agustinus: “Remota itaque iustitia quid sunt regna nisi magna latrocinia.”18

Dalam sosok agama kristiani termasuk pembedaan antara apa yang milik kaisar, dan apa yang milik Allah (bdk. Mt.22: 21), artinya, pembedaan antara negara dan Gereja atau, seperti kata Vatikan II, otonomi tata dunia.19 Negara tak boleh memerintah agama, melainkan harus menjamin kebebasan dan kerukunan antaragama penganut pelbagai agama: Gereja sebagai ungkapan sosial iman kristiani pada gilirannya mempunyai kemerdekaannya dan dari iman menghayati bentuk persekutuannya yang harus dihormati negara. Kedua lingkup itu berbeda, tetapi terarah kepada satu sama lain.

Keadilan adalah tujuan dan karena itu juga merupakan tolok ukur segala politik. Politik itu lebih daripada teknik penataan ruang publik: Asal dan tujuannya adalah keadilan, dan ini bersifat etis. Demikianlah negara mau tak mau selalu berhadapan dengan soal: Bagaimana keadilan dapat diwujudkan sekarang dan di sini? Tetapi soal ini mengandaikan pertanyaan lain yang lebih mendasar: Apakah keadilan itu? Ini adalah soal akalbudi praktis: tetapi agar akalbudi dapat berfungsi dengan baik, haruslah ia terus menerus dimurnikan, karena penumpulan etis oleh pengaruh kepentingan dan kekuasaan, yang membutakan akalbudi, merupakan bahaya yang tak dapat sama sekali disisihkan.

Di sini politik dan iman bersentuhan. Iman pastilah mempunyai hakikatnya sendiri sebagai pertemuan dengan Allah yang hidup – pertemuan yang membuka cakrawala baru bagi kita jauh melampaui bidang akalbudi sendiri. Berpangkal pada perspektif Allah iman membebaskannya dari kebutaan dan karenanya membantunya menjadi lebih baik. Ia memungkinkan akalbudi melakukan karyanya dengan lebih baik dan melihat ciri khasnya dengan lebih baik. Di sinilah tempat penampilan ajaran sosial katolik: Ia tak bermaksud memberi kuasa Gereja atas negara; ia juga tak mau memaksakan keyakinan dan perilaku yang termasuk iman kepada mereka yang tak menganut iman ini. Ia hanya mau memberi sumbangan untuk memurnikan akalbudi dan membantu, agar apa yang sekarang dan di sini diakui benar, dan kemudian juga dapat diwujudkan.

Ajaran sosial Gereja berargumentasi dari akalbudi dan hukum kodrati, artinya, dari apa yang hakiki bagi semua orang. Dan ia tahu bahwa bukanlah tugas Gereja untuk secara politis mewujudkan sendiri ajaran ini. Ia mau mengabdi pembentukan hatinurani dalam politik dan membantu, agar keterbukaan bagi tuntutan sejati keadilan berkembang dan sekaligus juga kesediaan bertindak menurutnya, meskipun bertentangan dengan kepentingan yang meluas. Namun hal ini berarti: membangun tatanan masyarakat dan negara yang adil, sehingga setiap orang men-dapatkan apa yang merupakan haknya, adalah tugas mendasar yang setiap kali harus diangkat setiap generasi. Karena merupakan tugas politik, maka tak dapat merupakan tugas langsung Gereja. Namun karena sekaligus merupakan tugas kemanusiaan asasi, maka Gereja mempunyai kewajiban, dengan caranya sendiri dengan pemurnian akalbudi dan pembentukan etis memberikan sumbangannya, agar tuntutan keadilan menjadi mudah dipahami dan diwujudkan secara politis.

Gereja tak dapat dan tak boleh merampas perjuangan politis, untuk mewujudkan masyarakat yang sebisa-bisanya adil. Ia tak dapat dan tak boleh menggantikan negara. Namun ia dapat dan tak boleh dalam menggumuli keadilan bersikap acuh-tak acuh. Ia harus dengan berargumentasi berperanserta dalam pergumulan akalbudi, dan ia harus membangkitkan kekuatan jiwa yang perlu agar keadilan yang juga menuntut pantang, diwujudkan. Masyarakat adil tak dapat merupakan karya Gereja, melainkan harus diciptakan politik. Namun bergumul mengenai keadilan dengan membuka pengetahuan dan kemauan bagi tuntutan apa yang baik sungguh menyangkut dirinya.

b) Kasih – Caritas – selalu perlu, juga dalam masyarakat yang paling adil. Tidak ada tatanan negara yang adil, yang dapat membuat pelayanan kasih berlebihan. Barangsiapa mau menghapus kasih, mulai menghapus manusia sebagai manusia. Selalu akan ada penderitaan yang membutuhkan penghiburan dan bantuan. Senantiasa akan ada kesepian. Selalu juuga akan ada keadaan kekurangan sarana jasmani, yang membutuhkan bantuan dalam arti kasih akan sesama yang dihayati.20 Negara pengurus segalanya, yang mau mengatur segalanya, akhirnya menjadi instansi birokratis, yang tak dapat memberikan apa yang hakiki, yang diperlukan manusia yang menderita – setiap manusia -: perhatian pribadi penuh kasih sayang. Kita tak membutuhkan negara yang mengatur dan menguasai segalanya, melainkan negara yang menurut prinsip subsidiaritas dengan murah hati mengakui dan mendukung prakarsa yang muncul dari pelbagai kekuatan masyarakat dan menghubungkan spontanitas dengan kedekatan pada manusia yang membutuhkan bantuan. Gereja adalah kekuatan hidup seperti itu: di dalamnya hidup dinamika kasih yang dinyalakan Roh Kristus, yang memberikan kepada manusia bukan hanya bantuan jasmani, melainkan juga penguatan kejiwaan dan keselamatan, yang seringkali lebih diperlukan daripada bantuan jasmani. Pendapat bahwa struktur adil membuat pelayanan kasih berlebihan, mengandung gambaran materialistis tentang manusia: ketakhayulan bahwa manusia hidup “hanya dari roti” (Mt 4: 4; bdk.Ul 8: 3) – keyakinan yang merendahkan manusia dan mengingkari justru apa yang khas manusiawi.

29.Demikianlah kita kini dapat menentukan lebih lanjut hubungan antara pergumulan mengenai tatanan yang adil negara dan masyarakat di satu sisi dan pelayanan kasih bersama yang teratur di lain sisi dalam hidup Gereja. Ternyata pembangunan struktur adil bukan tugas langsung Gereja, melainkan tatanan politik – bidang akalbudi yang bertanggungjawab. Dalam pada itu Gereja mempunyai tugas tak langsung sejauh ia memberi sumbangan memurnikan akalbudi dan membangkitkan kekuatan moral yang perlu untuk membangun struktur yang adil dan berfungsi untuk kurun waktu yang lama.

Tugas langsung menghasilkan tatanan adil dalam masyarakat, merupakan tugas kaum beriman awam. Sebagai warga negara mereka dipanggil untuk berpartisipasi secara pribadi dalam hidup publik. Maka mereka tak dapat lepas tangan, mereka harus melibatkan diri “dalam banyak dan pelbagai prakarsa di bidang ekonomi, sosial, legislatif, eksekutif dan kultural, yang mengabdi dukungan organis dan institusional kepentingan umum.”21 Jadi, adalah tugas kaum beriman awam, menata hidup bermasyarakat secara baik, dengan menghormati otonomi yang wajar dan bekerja sama dengan warga lain sesuai dengan kompetensi masing-masing dan atas tanggung jawab sendiri.22 Juga bila bentuk-bentuk ungkapan spesifik pelayanan kasih gerejawi tak pernah dapat disamakan dengan kegiatan negara, tetap berlaku bahwa kasih harus menjiwai seluruh hidup kaum beriman awam dan juga mewarnai tindakan politik mereka dalam arti “kasih sosial.”23

Organisasi karitatif Gereja merupakan opus proprium, karya khas; Gereja tidak hanya mendampingi dengan kerja sama, melainkan sebagai subjek langsung yang bertanggung jawab dan melakukan apa yang sesuai dengan hakikatnya. Gereja tak dapat diberi dispensasi dari pelayanan kasih sebagai kegiatan bersama teratur kaum beriman, dan di lain pihak tak pernah akan ada keadaan di mana pelayanan kasih individual orang kristiani tak diperlukan, karena manusia tak hanya membutuhkan keadilan, melainkan juga kasih.

Pelbagai struktur pelayanan kasih di medan bakti dewasa ini

30.Sebelum kami mencoba menggariskan profil khas kegiatan gerejawi dalam pelayanan kepada manusia, kami ingin mengarahkan pandangan kepada keadaan umum pergumulan mengenai keadilan dan kasih dalam dunia dewasa ini.

a) Sarana media komunikasi membuat planet kita menjadi lebih kecil, dengan secara cepat mendekatkan manusia dan budaya yang berbeda-beda. Meskipun “hidup bersama” ini kadang-kadang disertai tiadanya pemahaman dan menimbulkan ketegangan, tetapi hal bahwa keadaan darurat sesama manusia dialami lebih langsung, merupakan imbauan untuk berpartisipasi dalam keadaan dan kesulitan itu. Setiap hari kita menjadi sadar, betapa banyak pederitaan berdasarkan pelbagai kesusahan jasmani dan rohani di dunia ini, dan itu meskipun ada kemajuan besar di bidang ilmu pengetahuan dan teknik. Maka dari itu pada zaman kita diperlukan kesediaan baru untuk menolong sesama yang menderita. Konsili Vatikan II telah mengedepankannya dengan amat jelas: “Dewasa ini, karena sarana-sarana komunikasi berfungsi makin sempurna, jarak-jarak antarmanusia diatasi dapat dan haruslah karya karitatif meliputi semua orang dan kesusahan.”24

Di lain pihak – dan ini adalah aspek yang menantang dan sekaligus memberanikan dari globalisasi – dewasa ini tersedia banyak sarana untuk memberi bantuan kemanusiaan kepada saudara-saudari kita, termasuk sistem modern pembagian makanan dan pakaian dan juga penyediaan kemungkinan penampungan. Demikianlah keprihatinan bagi sesama mengatasi batas-batas bangsa-bangsa dan berusaha memperluas cakrawala ke seluruh dunia. Tepatlah Konsili Vatikan II mengedepankan: “Di antara ciri khas zaman kita patut diperhatikan citarasa solidaritas semua bangsa yang makin berkembang dan tak tertahan.”25 Lembaga negara dan perkumpulan kemanusiaan mendukung prakarsa ini, yang satu dengan bantuan atau keringanan perpajakan, yang lain dengan menyediakan dana yang cukup besar. Secara itu solidaritas bersama yang diungkapkan persekutuan jauh mengatasi solidaritas individual.

b) Dalam keadaan ini timbul dan tumbuhlah banyak bentuk kerja sama antara instansi negara dan gerejawi yang ternyata berhasil. Instansi gerejawi dengan transparansi kerjanya dan implementasi setia kewajibannya untuk memberi kesaksian tentang kasih, juga menyuburkan instansi sipil dengan semangat kristiani dan mendukung kesepakatan bersama, yang tentu bermanfaat bagi keberhasilan pelayanan karitatif.26 Demikian pula dalam konteks ini timbul banyak organisasi dengan tujuan karitatif atau filantropis, yang melibatkan diri mengingat masalah-masalah politis dan sosial mencari pemecahan yang memuas-kan dari sudut kemanusiaan. Gejala penting zaman kita ialah timbul dan meluasnya aneka bentuk Kerelaan yang mengambil alih banyak pelayanan.27 Kepada semua yang dalam pelbagai bentuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ini, kami ingin menyampaikan kata khusus pengakuan dan terima kasih. Keterlibatan luas ini bagi kaum muda merupakan sekolah kehidupan, yang mendidik untuk solidaritas dan kesediaan memberikan bukan hanya sesuatu, melainkan diri sendiri. Budaya kematian, yang misalnya terungkap dalam narkoba, dengan demikian ditentang oleh kasih yang tidak mencari diri sendiri, melainkan justru dalam kesediaan kehilangan diri sendiri bagi orang lain (bdk. Lk 17:33 par.) nyata sebagai budaya kehidupan.

Juga dalam Gereja Katolik dan dalam Gereja-gereja lain serta dalam persekutuan gerejawi timbul bentuk-bentuk baru pelayanan karitatif, dan yang sudah berkembang dengan kekuatan baru – bentuk-bentuk, yang seringkali merupakan perpaduan yang berhasil antara evangelisasi dan pelayanan kasih. Di sini kami ingin dengan tegas meneguhkan apa yang telah digariskan pendahulu saya yang besar Yohanes Paulus II dalam ensikliknya Sollicitudo Rei Socialis,28 ketika ia menerangkan kesediaan Gereja Katolik untuk kerja sama dengan organisasi karitatif Gereja-gereja dan persekutuan-persekutuan, karena kita semua bertindak atas motivasi dasar yang sama dan mempunyai tujuan yang sama: humanisme sejati, yang mengakui dalam manusia gambaran Allah dan mau membantunya, menghayati hidup sesuai dengan martabatnya. Ensiklik Ut Unum Sint sekali lagi menegaskan, bahwa untuk pengembangan dunia menjadi lebih baik diperlukan suara yang sama orang-orang kristiani dan keterlibatannya, agar “Penghormatan hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan semua, terutama kaum miskin, mereka yang direndahkan dan tanpa perlindungan dibantu agar menang.”29 Kami ingin mengungkapkan sukacita kami bahwa harapan ini di seluruh dunia dalam banyak prakarsa mendapatkan gema luas.

Profil spesifik pelayanan kasih Gereja

31.Meningkatnya jumlah aneka organisasi yang melibatkan diri bagi sesama yang menderita macam-macam kesusahan, dapat dijelaskan akhirnya karena imperatif kasih akan sesama yang ditanam Pencipta dalam kodrat manusia. Namun ia juga dampak agama kristiani di dunia, yang dalam sejarah berulang-ulang membangkitkan dan mewujudkan imperatif yang sering digelapkan ini. Agama kafir yang dibarui Kaisar Yulian Apostat merupakan contoh kuno untuk dampak ini. Dalam arti ini kekuatan agama kristiani menjangkau jauh melewati batas-batas iman kristiani. Maka makin pentinglah pelayanan kasih gerejawi mendapat pancaran penuh dan tidak tenggelam sebagai variasi upaya kemakmuran umum. Apakah unsur-unsur konstitutif yang merupakan hakikat pelayanan kasih kristiani dan gerejawi?

a) Menurut contoh, yang diajukan perumpamaan orang Samaria yang murah hati, pelayanan kasih kristiani merupakan jawaban atas apa yang dalam keadaan konkret langsung adalah penderitaan kekurangan: Orang lapar harus diberi makan, orang telanjang diberi pakaian, orang sakit ditangani, orang tahanan dikunjungi dsb. Organisasi karitatif Gereja – mulai dengan “Caritas” (diosesan, nasional dan internasional) – harus melakukan apa yang mungkin, agar tersedia sarana untuk itu dan terutama orang-orang untuk melaksanakan tugas-tugas seperti itu. Apa yang menyangkut pengabdian orang kepada para penderita, diperlukan kompetensi profesional: para pembantu harus dididik sedemikian rupa, agar mereka melaksanakan apa yang tepat dengan cara yang tepat dan dapat mengusahakan pemeliharaan lebih lanjut. Kompetensi profesional adalah keperluan pertama, mendasar. tetapi hanya itu tidak cukup. Soalnya menyangkut manusia, dan manusia selalu membutuhkan lebih daripada penanganan yang melulu teknis benar. Mereka membutuhkan kemanusiaan. Mereka membutuhkan perhatian. Bagi semua yang aktif dalam organisasi karitatif Gereja, haruslah menjadi ciri khas, bahwa mereka tak hanya melakukan dengan tepat apa yang harus dilakukan, melainkan melayani orang lain itu dengan hati, sehingga orang itu merasakan kebaikan manusiawinya. Maka dari itu para pembantu itu membutuhkan di samping dan bersama pendidikan profesional terutama pembentukan hati: Mereka harus dihantar kepada pertemuan dengan Allah dalam Kristus, yang membangkitkan dalam diri mereka kasih dan membuka hati bagi sesama, sehingga kasih akan sesama bagi mereka bukan lagi perintah yang dipaksakan dari luar, melainkan akibat iman yang efektif dalam kasih (bdk. Gal 5: 6).

b) Tindakan kasih kristiani harus bebas dari partai dan ideologi. Ia bukan alat perubahan dunia yang dikendalikan secara ideologis dan tidak mengabdi strategi dunia, melainkan sekarang dan di sini penghadiran kasih, yang selalu dibutuhkan manusia. Zaman Baru terutama sejak abad ke 19 dikuasasi pelbagai variasi filsafat kemajuan; bentuknya paling radikal ialah marxisme. Strategi marxisme meliputi teori pemelaratan. Isinya: barang-siapa hidup dalam keadaan tak adil menolong sesama secara karitatif, de facto mengabdi sistem tak adil yang ada, karena ia membuatnya nampankya dapat ditahan, sekurang-kurangnya sampai tingkat tertentu Dengan demikian modal revolusioner dihambat dan perubahan menjadi dunia yang lebih baik dihentikan. Maka dari itu keterlibatan karitatif dinyatakan sebagai upaya mendukung sistem dan diserang. Sesungguhnya ini filsafat takmanusiawi. Manusia yang hidup sekarang dikurbankan bagi momok masa depan, maka depan yang datangnya sekurang-kurangnya dapat diragukan. Sesungguhnya kemanusiawian dunia tak dapat didukung dengan mendiamkannya. Dunia yang lebih baik hanya dapat didukung dengan sumbangan berupa tindakan baik sekarang, dengan semangat dan di mana mungkin, lepas dari strategi partai dan program. Program orang kristiani – program orang Samaria yang murah hati, program Yesus – ialah “hati yang melihat”. Hati ini melihat, di mana kasih diperlukan dan bertindak sesuai. Bila kegiatan karitatif dilaksanakan oleh Gereja sebagai prakarsa bersama, dengan sendirinya perlulah selain spontanitas perseorangan juga perencanaan, pemeliharaan dan kerja sama dengan lembaga-lembaga lain serupa.

c) Selain itu kasih akan sesama yang dipraktikkan tak boleh menjadi alat untuk apa yang dewasa ini disebut proselitisme. Kasih itu cuma-cuma; ia tak dilakukan untuk mencapai tujuan lain.30 Namun ini tak berarti, bahwa pelayanan karitatif harus menyisihkan Allah dan Kristus. Bukankah selalu manusia seutuhnya yang kita hadapi? Seringkali justru ketiadaan Allah dasar terdalam penderitaan. Barangsiapa bekerja secara karitatif atas nama Gereja, tak pernah akan mencoba memaksakan iman Gereja kepada orang lain. Ia tahu bahwa kasih yang murni dan tanpa maksud lain merupakan kesaksian yang terbaik bagi Allah, yang kita imani dan yang mendorong kita untuk mengasihi. Orang kristiani tahu kapan waktunya berbicara tentang Allah dan kapan waktunya, diam tentang Dia dan membiarkan kasih berbicara. Ia tahu, bahwa Allah adalah kasih (bdk. 1 Yoh 4: 8) dan justru hadir, bila hanya kasih dilaksanakan. Ia tahu – untuk kembali kepada pertanyaan yang tadi dilontarkan, bahwa pelecehan kasih berarti pelecehan Allah dan manusia – percobaan berhasil tanpa Allah. Maka dari itu pembelaan Allah dan manusia yang terbaik adalah dalam kasih. Tugas organisasi karitatif Gereja ialah meneguhkan kesadaran ini pada para wakilnya, sehingga mereka dengan tindakan maupun perkataannya, sikap diamnya, teladannya menjadi saksi-saksi Kristus yang pantas dipercaya.

Pengemban pelayanan karitatif Gereja

32.Akhirnya kami masih harus memalingkan diri kepada para pengemban pelayanan karitatif Gereja tersebut di atas. Dalam pertimbangan yang lalu sudah jelas, bahwa subjek sesungguhnya pelbagai organisasi katolik yang melaksanakan pelayanan karitatif ialah Gereja sendiri, pada semua taraf, mulai dari paroki, melalui Gereja partikular sampai dengan Gereja universal. Maka dari itu pantaslah bahwa pendahulu kami yang terhormat Paulus VI mendirikan “Dewan Kepausan Cor Unum” sebagai instansi Takhta Suci yang bertanggung jawab atas orientasi dan koordinasi organisasi dan kegiatan yang didukung Gereja. Sesuai dengan struktur keuskupan seyogyanyalah bila dalam Gereja-gereja partikular para Uskup sebagai pengganti para rasul mengemban tanggung jawab pertama, agar program Kisah para Rasul (bdk. 2: 42-44) juga dewasa ini diwujudkan: Gereja sebagai keluarga Allah haruslah sekarang seperti dahulu menjadi tempat bantuan timbal balik dan sekaligus tempat kesediaan untuk mengabdi semua yang membutuhkan bantuan, juga bila mereka tak termasuk dalam Gereja. Pada tahbisan Uskup sebelum tahbisan diajukan pertanyaan kepada orang yang akan ditahbiskan; dalam pertanyaan itu unsur-unsur hakiki pelayanannya disebut dan kepadanya diperkenalkan kewajiban-kewajiban jabatannya yang akan diembannya. Sehubungan dengan itu orang yang akan ditahbiskan berjanji “demi Tuhan menjumpai orang miskin dan tanpa tanah air dan semua orang yang menderita kekurangan dengan baik hati dan bersikap murah hati terhadap mereka.”31

Kitab Hukum Kanonik (C.I.C.) membahas dalam kanon-kanon tentang jabatan Uskup kegiatan karitatif tak eksplisit sebagai sektor tersendiri pelayanan uskup, melainkan hanya secara umum berbicara tentang tugas Uskup, mengkoordinir aneka karya kerasulan dengan mempertahankan ciri masing-masing.32 Namun baru-baru ini Direktorium Pelayanan Pastoral Uskup secara konkret mengembangkan pelayanan karitatif sebagai tugas hakiki Gereja sebagai keseluruhan dan Uskup di Keuskupannya33 dan mengedepankan, bahwa pelayanan kasih adalah tindakan Gereja sebagai Gereja dan bahwa seperti pelayanan Sabda dan sakramen- sakramen merupakan bagian hakiki tugasnya yang mendasar.34

33.Mengenai rekan kerja, yang praktis melaksanakan karya kasih akan sesama dalam Gereja, apa yang hakiki sudah dikatakan: mereka tak boleh mengacu pada ideologi memperbaiki dunia, melainkan harus dituntun iman, yang efektif dalam kasih (bdk. Gal 5: 6). Maka mereka harus pertama-tama menjadi manusia yang tersentuh kasih Kristus, yang hatinya dimenangkan Kristus dengan kasihnya dan di dalamnya dibangkitkan kasih akan sesama. Semboyan mereka haruslah kalimat dari surat kedua Paulus kepada umat di Korintus “Kasih Kristus mendesak kami” (5: 14). Mengetahui bahwa Allah sendiri di dalamnya menganugerahkan diri-Nya kepada kita sampai wafat, harus mendorong kita, tak hidup untuk diri sendiri, melainkan bagi dia dan bersama dia untuk orang lain. Barangsiapa mengasihi Kristus, mengasihi Gereja dan ingin agar ia makin menjadi ungkapan dan sarana kasihnya. Rekan kerja setiap organisasi karitatif katolik ingin bersama Gereja dan karena itu juga dengan Uskup bekerja agar kasih Allah meluas dalam dunia. Ia ingin dengan partisipasi dalam pelayanan kasih Gereja menjadi saksi Allah dan Kristus dan justru karenanya tanpa pamrih berbuat baik kepada manusia.

34.Keterbukaan bagi dimensi katolik Gereja akan memajukan dalam diri rekan kerja kesediaan mengadakan kesepakatan dengan organisasi-organisasi lain dalam melayani aneka bentuk penderitaan kekurangan; tetapi itu harus terjadi dengan memperhatikan profil khas pelayanan yang diharapkan Kristus dari para murid-Nya. Dalam madah kasih Santo Paulus mengajar kita (1 Kor 13), bahwa kasih itu lebih daripada hanya kegiatan” “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku” (ayat 3). Madah ini harus merupakan Magna Charta segala pelayanan gerejawi; di dalamnya semua pertimbangan dirangkum, yang kami kembangkan dalam tulisan tentang kasih ini. Kegiatan praktis tetap kurang, bila di dalamnya tidak dirasakan kasih kepada manusia, yang dipupuk dalam pertemuan dengan Kristus. Partisipasi pribadi dan batin dalam kekurangan dan penderitaan orang lain menjadi pemberian diriku sendiri baginya. aku harus memberikan kepada orang lain, agar pemberian itu tidak merendahkannya, bukan hanya sesuatu dari diriku, melainkan diriku sendiri, ada di situ sebagai pribadi.

35.Pengabdian ini membuat pembantu menjadi rendah hati. Ia tidak menempatkan diri dalam posisi yang lebih tinggi terhadap yang lain, betapa mengenaskan juga situasinya pada saat ini. Kristus menduduki tempat terakhir di dunia – salib, dan justru dengan kerendahan hati radikal itu ia menebus kita dan selalu menolong kita. Barangsiapa bisa membantu, mengakui bahwa justru dengan demikian juga ia sendiri dibantu dan bahwa dapat membantu itu bukan jasa dan kebesarannya. Tugas ini adalah rahmat. Semakin seseorang bekerja bagi orang lain, semakin ia akan mengerti Sabda Kristus dan mem-buatnya menjadi miliknya: “Kita ini hamba yang tak berguna” (Lk 17: 10). Karena ia tahu bahwa ia bertindak tidak berdasarkan kebesaran atau jasanya, melainkan karena Tuhan memberikannya kepadanya. Kadang- kadang banyaknya penderitaan dan keterbatasan tindakannya dapat menjadi godaan untuk berputus-asa. Namun justru pada saat itu ia terbantu karena tahu bahwa pada akhirnya ia hanyalah alat di tangan Tuhan, ia akan membebaskan diri dari kesombongan, harus sendiri dan dengan kekuatan sendiri memperbaiki dunia. Ia akan dengan rendah hati melakukan apa yang mungkin baginya dan dengan rendah hati menyerahkan selebihnya kepada Tuhan. Allah yang memerintah dunia, bukan kita. Kita hanya mengabdi sejauh kita bisa dan ia memberi kekuatan untuk itu. Dengan kekuatan ini melakukan segalanya yang bisa kita lakukan, itulah tugas, yang selalu menggerakkan hamba Yesus Kristus: “Kasih Kristus mendorong kita” (2 Kor 5: 14).

36.Pengalaman akan ketidakterbatasan kekurangan di satu pihak dapat mendorong kita ke ideologi, yang mengira kini melakukan segalanya yang rupanya tak dilakukan Allah yang memerintah dunia – pemecahan universal keseluruhan. Di lain pihak ia dapat menjadi godaan untuk menjadi malas, karena rupanya tak ada yang dapat dicapai. Dalam keadaan ini kontak hidup dengan Kristus adalah bantuan yang menentukan, untuk tetap berada di jalan yang benar, tidak jatuh ke dalam kesombongan yang melecehkan manusia yang tidak membangun, melainkan justru merusak dan tidak menyerah. Karena hal ini menghambat kita dibimbing kasih dan membantu manusia. Doa sebagai cara, setiap kali menimba lagi kekuatan dari Kristus, di sini menjadi hal praktis yang mendesak. Barangsiapa berdoa, tidak menyia-nyiakan waktunya, juga bila keadaan nampaknya mendesak dan hanya mendesak untuk bertindak. Kesalehan tidak melemahkan perjuangan melawan kemiskinan atau bahkan kemelaratan sesama. Beata Teresa dari Kalkuta adalah contoh yang jelas, bahwa waktu yang dikhususkan bagi Allah dalam doa tidak hanya tak merugi-kan karya kasih bagi sesama, melainkan sesungguhnya adalah sumbernya yang tak pernah habis. Dalam suratnya dalam masa Prapaskah 1996 ia menulis kepada rekan kerjanya yang adalah awam: “Kita membutuhkan hubungan mesra dengan Allah dalam hidup kita sehari-hari. Dan bagaimana kita dapat memperolehnya? Melalui doa.”

37.Sudah saatnya, mengingat aktivisme dan sekularisme banyak orang kristiani dalam karya karitatif yang mengancam untuk meneguhkan kembali makna doa. Orang kristiani yang berdoa tentu saja tidak mengkhayal, mengubah rencana Allah, atau memperbaiki apa yang direncanakan Allah. Ia mencari pertemuan dengan Bapa Yesus Kristus dan mohon agar ia hadir dengan hiburan Roh-Nya dalam dirinya dan dalam karyanya. Keakraban dengan Allah pribadi dan penyerahan kepada kehendak-Nya mencegah, agar manusia jangan dirugikan, dan menjaganya terhadap jerat ajaran fanatik dan teroristis. Sikap dasar religius sejati mencegah manusia mengangkat diri menjadi hakim Allah dan menuduh-Nya, membiarkan kemelaratan, tanpa merasakan belas kasih terhadap ciptaan-Nya. Barangsiapa berani berjuang melawan Allah dengan dalih demi kepentingan manusia – siapakah yang akan diandalkannya, bila tindakan manusia ternyata tak berdaya?

38.Tentulah Ayub dapat mengeluh pada Allah tentang penderitaan yang ada di dunia dan tak dapat dimengerti dan nampaknya tak dapat dibenarkan. Demikianlah dalam penderitaannya ia berkata: “Ah, semoga aku tahu mendapatkan Dia, dan boleh datang ke tempat ia bersemayam!… Maka aku akan mengetahui jawaban- jawaban yang diberikan-nya kepadaku dan aku akan mengerti apa yang difirmankan-Nya kepadaku. Sudikah Ia mengadakan perkara dengan aku dalam kemahakuasaannya-Nya?.. Itulah sebabnya hatiku gemetar menghadapi Dia, kalau semuanya itu kubayangkan, maka aku ketakutan terha-dap Dia. Allah telah membuat aku putus asa, Yang Mahakuasa telah membuat hatiku gemetar.” (23: 3. 5-6. 15-16). Seringkali kita tak dapat mengetahui alasan, mengapa Allah tak mengulurkan tangan, mengapa ia tidak campur tangan. Ia tak melarang kita berteriak seperti Yesus di salib: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa engkau meninggalkan Daku?” (Mt. 27: 46). Dalam dialog dan doa kita harus bertahan dengan soal ini di hadapan wajah-Nya: “Masih berapa lama engkau berlambat, Tuhan, engkau yang Kudus dan Jujur?” (Why 6: 10). Agustinus memberi jawaban dari iman atas penderitaan kita : “Si comprehendis, non est Deus – “Bila engkau mengertinya, maka ia bukan Allah.”35 Protes kita tidak dimaksudkan untuk menantang Allah, atau mengandaikan kekeliruan, kelemahan atau ketidakpedulian. Orang beriman bisa berpikir, Allah itu tak berdaya, atau ia “tidur” (bdk. 1 Raj 18: 27). Sebaliknya lebih tepat, bahwa bahkan teriakan kita seperti teriakan Yesus pada salib, merupakan peneguhan terkuat dan terdalam iman kita akan kedaulatan-Nya. Karena orang-orang kristiani tetap percaya kendatipun ada yang tak dimengerti dan kebingungan lingkungannya akan “kebaikan dan kasih kemanusiaan Allah” (Tit 3: 4). Meskipun mereka seperti orang lain dibenamkan dalam kompleksitas dramatis peristiwa-peristiwa sejarah, mereka tetap teguh dalam pengharapan, bahwa Allah adalah Bapa dan mengasihi kita, juga bila sikap diamnya tak kita mengerti.

39.Iman, pengharapan dan kasih merupakan kesatuan. Pengharapan terungkap dalam keutamaan kesabaran, yang juga bila nampaknya tak berhasil tetap bertekun dalam kebaikan, dan dalam keutamaan kerendahan-hati, yang menerima rahasia Allah dan percaya kepadanya juga dalam kegelapan. Iman menunjukkan kepada kita bahwa Allah, yang menyerahkan putra-Nya dan dengan demikian memberikan kepastian yang mempesona bahwa memang benar Allah itu kasih! Dengan demikian ia mengubah ketidaksabaran kita dan keraguan kita menjadi kepastian dalam pengharapan, bahwa dunia di tangan Allah dan bahwa ia menang kendatipun segala kegelapan, seperti ditunjukkan dalam gambar-gambar yang mengerikan, terakhir memancar dalam Wahyu rahasia. Iman, pengendapan kasih Allah yang nampak dalam hati Yesus yang tertembus di salib, pada gilirannya menciptakan kasih. Ia adalah cahaya – pada akhirnya satu-satunya – yang setiap kali menerangi dunia yang gelap dan memberi kepada kita keberanian untuk hidup dan bertindak. Kasih itu mungkin, dan kita bisa melaksanakannya, karena kita diciptakan menurut gambar Allah. Mewujudkan kasih dan dengan demikian memasukkan cahaya Allah ke dunia – untuk itulah kami mengundang Anda dengan ensiklik ini.

PENUTUP

40.Marilah kita akhirnya memandang para Kudus, mereka yang memberi teladan dalam mewujudkan kasih. Khususnya kita memikirkan Martinus dari Tours (+ 397), serdadu, yang kemudian menjadi rahib dan uskup: Seperti ikone ia memperjelas nilai tak tergantikan kesaksian kasih individual. Di depan pintu gerbang Amiens Martinus membagi mantolnya dengan orang miskin. Pada malam berikutnya nampak kepadanya, dengan mengenakan mantol itu Yesus sendiri dalam mimpi, untuk meneguhkan keberlakuan abadi kata-kata dari Injil: “Aku telanjang dan kamu memberi aku pakaian… Apa yang kamu lakukan bagi saudara yang paling hina, kamu lakukan bagi-Ku. (Mt.25: 36. 40)36 Namun berapa banyak kesaksian kasih lebih lanjut dapat diambil dari sejarah Gereja! Ungkapan khusus ditemukan dalam pelayanan penting kasih akan sesama yang diwujudkan seluruh gerakan monastik sejak semula dengan Santo Antonius, abas (+ 356). Dalam pertemuan “dari muka ke muka” dengan Allah yang adalah kasih, rahib itu merasakan tuntutan mendesak, mengubah seluruh hidupnya menjadi pelayanan – pelayanan kepada Allah dan kepada sesama. Demikianlah hospitia, rumah sakit dan rumah kaum miskin besar dapat dijelaskan, yang dibangun di samping biara-biara. Dan demikian juga prakarsa-prakarsa besar bagi kemajuan manusia dan pendidikan kristiani yang dimaksudkan terutama untuk kaum miskin; mereka ini semula diperhatikan tarekat-tarekat monastik dan mendicantes dan kemudian selama sepanjang sejarah Gereja, pelbagai tarekat pria dan perempuan. Sosok-sosok orang kudus seperti Fransiskus dari Asisi, Ignasius dari Loyola, Yohanes dari Allah, Kamilus dari Lellis, Vindent de Paul, Louise de Marillac, Giuseppe B.Cottolengo, Yohanes Bosko, Luigi Orione dan Teresa dari Kalkuta – untuk menyebut hanya beberapa saja – adalah teladan terkenal kegiatan kasih sosial bagi semua orang, karena mereka itu orang beriman, berpengharapan dan kasih.

41.Di antara para orang kudus Maria, ibu Tuhan, cermin segala kekudusan, paling utama. Dalam injil Lukas kita melihat bagaimana ia dalam pelayanan kasih kepada Elisabet, keponakannya; dan ia tinggal tiga bulan padanya (1: 56), untuk membantunya pada tahap akhir kehamilannya. “Magnificat anima mea Dominum”, katanya pada kunjungan ini – “Jiwaku mengagungkan Tuhan” – (Lk 1: 46) dan dengan itu mengungkapkan seluruh program hidupnya: tidak menempatkan diri sendiri di pusat, melainkan memberi tempat bagi Allah, yang dijumpainya baik dalam doa maupun dalam pelayanan kepada sesama – hanya bila demikian dunia menjadi baik. Maria besar justru karena ia hendak menga-gungkan Allah , dan bukan dirinya. Ia rendah hati: Ia tak menghendaki sesuatu lain selain menjadi hamba Tuhan (bdk. Lk 1: 38.48). Ia tahu bahwa ia hanya dengan demikian menyumbang untuk keselamatan dunia, bahwa ia tak mau melaksananakan karyanya sendiri, melainkan menyediakan diri seutuhnya bagi karya Allah. Ia manusia yang berharap: Hanya karena ia percaya akan janji Allah dan menantikan keselamatan Israel, dapatlah malaikat datang kepadanya dan memanggilnya untuk pelayanan kepada janji itu. Ia manusia yang beriman: “Berbahagialah engkau, karena engkau percaya”, kata Elisabet kepadanya (bdk. Lk 1: 45). Magnificat – bagaikan lukisan jiwanya – tersulam dengan benang-benang dari Kitab Suci, dengan benang-benang Sabda Allah. Tampak bahwa ia sungguh akrab dengan Sabda Allah bagaikan dalam rumah, di mana ia keluar masuk. Ia berbicara dan berpikir dengan Sabda Allah, Sabda Allah menjadi perkataannya, dan perkataannya datang dari Sabda Allah. Juga menjadi nyata bahwa pikirannya ikut berpikir dengan pikiran Allah, bahwa kehendaknya ikut dengan kehendak Allah. Karena ia sungguh diresapi Sabda Allah, dapatlah ia menjadi ibu Sabda yang menjadi manusia. Akhirnya: Maria adalah manusia yang mengasihi. Tak mungkin lain! Sebagai orang beriman dan dalam iman berpikir dengan pikiran Allah, berkehendak dengan kehendak Allah ia hanya dapat menjadi manusia yang mengasihi. Kita dapat menduganya dari isyarat halus yang diceritakan kepada kita oleh kisah kanak-kanak dari Injil. Kita melihatnya dalam diskresi di Kana waktu ia melihat kesulitan mempelai dan meneruskannya kepada Yesus. Kita melihatnya dalam kerendahan-hati yang terungkap dalam perilaku tak menonjol selama penampilan Yesus dalam hidup publik – karena ia tahu bahwa putranya kini harus mendirikan keluarga baru dan bahwa saat ibu akan kembali di salib, saat Yesus sesungguhnya (bdk. Yoh 2: 4; 13: 1). Ketika para murid melarikan diri, dialah yang berdiri di bawah salib (bdk. Yoh 19: 25-27); dan kemudian, di saat Pentakosta, para murid berkumpul di sekeliling dia menantikan Roh Kudus (bdk. Kis 1: 14).

42.Hidup para Kudus tak bukan hanya riwayat hidup di dunia ini, melainkan hidup dan kerja mereka dari Allah sesudah kematiannya. Dalam para kudus menjadi nyata: Barangsiapa pergi kepada Allah, tidak menjauhi manusia, melainkan justru sesungguhnya makin mendekatinya. Hal ini paling jelas pada Maria. Sabda Yesus yang tersalib kepada para murid, kepada Yohanes dan melalui dia kepada semua murid Yesus: “Lihatlah, ibumu” (Yoh 19: 27), menjadi nyata melalui semua generasi. Maria memang menjadi ibu semua orang beriman. Kepada kebaikan keibuan dan kemurnian serta keindahan keperawanannya orang-orang semua zaman dan semua kawasan bumi ini datang dalam kesusahan dan harapan, dalam kegembiraan dan penderitaan, dalam kesepian dan persekutuan. Dan selalu mereka merasakan anugerah kebaikannya, kasih yang tak terhingga yang diberikannya dari lubuk hatinya. Kesaksian syukur, yang diberikan kepadanya di semua benua dan budaya, adalah pengakuan kasih murni yang tidak mencari dirinya sendiri, melainkan hanya menghendaki apa yang baik. Penghormatan oleh kaum beriman sekaligus menunjukkan citarasa bagaimana kasih seperti itu mungkin: oleh persatuan mesra dengan Allah, dengan diresapi olehnya, sehingga orang yang minum dari kasih Allah, menjadi sumber, “keluar dari arus air hidup” (bdk. Yoh 7: 38). Maria, perawan, ibu, menunjukkan kepada kita, apa arti kasih dan dari ia berasal, menimba kekuatan yang selalu dibarui. Kepadanya kita mempercayakan Gereja, perutusannya dalam pelayanan kasih:

Santa Maria, Bunda Allah,
Engkau telah memberikan
Kepada dunia cahaya sejati,
Yesus, putramu – putra Allah.
Engkau telah menyerahkan dirimu
Kepada Allah yang memanggilmu
Dan dengan demikian menjadi sumber kebaikan,
Yang mengalir daripadanya.
Ajarlah kami mengenal dan mengasihi-Nya,
Agar kami sendiri dapat menjadi orang-orang
yang mengasihi dan sumber air hidup
di tengah dunia yang haus.

Diberikan di Roma, Santo Petrus, tanggal 25 Desember, Hari Raya Kelahiran Tuhan, tahun 2005, tahun pertama pontifikat.

Paus Benediktus XVI


  1. Bdk. Jenseits von Gut und Boese, IV, 168. 

  2. X, 69. 

  3. Bdk. R. Descartes, Oevres, diterbitkan V.Cousin, Jilid 12, Paris 1824, 95 dst. 

  4. II, 5: SCh 381, 196. 

  5. Ibid., 198. 

  6. Bdk. Metaphysica, XII, 7. 

  7. Bdk. Pseudo Dionysius Areopagite yang dalam karya, Tentang nama-nama ilahi, IV, 12-14: PG 3, 709-713 menyebut Allah sekaligus Eros dan Agape

  8. Bdk. Symposion, XIV-XV, 189c-192d. 

  9. Sallustius, De coniuratione Catilinae, XX, 4. 

  10. Bdk. Agustinus, Confessiones, III, 6, 11: CCL 27, 32. 

  11. De Trinitate, VIII, 8, 12: CCL 50, 287. 

  12. Bdk. 1 Apologeta, 67: PG 6, 429. 

  13. Bdk. Apologeticum 39, 7: PL 1, 468. 

  14. Ep. ad Rom., Inscr: PG 5, 801. 

  15. Bdk. Ambrosius, De officiis ministrorum, II, 28, 140: PL 16, 141. 

  16. Bdk. Ep 83: 3. L’Empereur Julien. Oevres completes, Paris 1960, v, I, 2a, 145. 

  17. Bdk. Kongregasi Uskup, Direktorium pelayanan pastoral Uskup, Apostolorum Successores (22 Februari 2004), 194, Vatikan 2004, 2a, 205-206. 

  18. De Civitate Dei, IV, 4: CCL 47, 102. 

  19. Bdk. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dunia Gaudium et spes, 36. 

  20. Bdk. Kongregasi Uskup, Direktorium Pelayanan Pastoral Uskup Apostolorum Successores (22 Februari 2004), 197, Vatikan 2004, 2a, 209. 

  21. Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Christifideles laici (30 Desember 1988), 42: AAS 81 (1989), 472. 

  22. Bdk. Kongregasi Ajaran Iman, Catatan doktiner tentang beberapa soal keterlibatan dan perilaku orang katolik dalam hidup politik (24 November 2002), 1. 

  23. Katekismus Gereja Katolik, 1939. 

  24. Dekret tentang kerasulan awam Apostolicam actuositatem, 8. 

  25. Ibid., 14 

  26. Bdk. Kongregasi Uskup, Direktorium Pelayanan Pastoral Uskup, Apostolorum Successores (22 Februari 2004), 195, Vatikan 2004, 2a, 207. 

  27. Bdk. Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Christifideles laici (30 Desember 1988), 41: AAS 81 (1989), 470-472. 

  28. Bdk. No. 32: AAS 80 (1988), 556. 

  29. No. 43: AAS 87 (1995), 946. 

  30. Bdk. Kongregasi Uskup, Direktorium Pelayanan Pastoral Uskup Apostolorum Successores (22 Februari 2004), 196, Vatikan 2004, 2a, 208. 

  31. Pontificale Romanum, De ordinatione episcopi, 43. 

  32. Bdk. Kan. 394, KHK Gereja Timur kan. 203. 

  33. Bdk. Apostolorum Successores, 193-198, o.c., 204-210. 

  34. Bdk. ibid., 194, 205-206. 

  35. Sermo 52, 16: PL 38, 360. 

  36. Bdk. Sulpicius Severus, Vita Sancti Martini, 3, 1-3: SCh 133, 256-258.