Jalan Salib (MB 31C)
Doa Pembuka
P: Tuhan Yesus Kristus, kami berkumpul untuk merenungkan jalan salib-Mu dari rumah Pilatus sampai ke puncak Golgota. Kami ingin mencoba mengikuti Dikau, meskipun biasanya sengsara dan kurban ingin kami hindari. Semoga semangat yang mendorong Dikau untuk tugas perutusan-Mu menjadi semangat hidup kami dan untuk Gereja-Mu yang sedang berziarah menuju Bapa. Kasihanilah kami, ya Tuhan.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Marilah kita renungkan,
Yesus yang menjadi kurban,
kar’na cinta kasih-Nya.
Perhentian 1: Yesus dihukum Mati
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Bagaikan penjahat, Yesus dihadapkan kepada Pilatus untuk diadili. Pilatus takut kehilangan simpati rakyat, maka Yesus didera. Akhirnya demi kepentingan pribadi, Pilatus menjatuhkan hukuman mati yang tidak adil. Namun Yesus dengan tenang, sabar dan rela menerimanya. Apakah kita lebih daripada Pilatus bila kita mengadili sesama dengan syak dan prasangka? Bila kita lebih mementingkan diri kita sendiri daripada memperjuangkan keadilan dan kebenaran? Apakah kita sabar bila terjadi salah paham yang merugikan kita? Apakah kita masih bisa mencinta bila dibenci orang? (hening)
P: Ya Tuhan, untuk menyelamatkan kami Engkau menerima hukuman mati dengan tenang. Ajarilah kami untuk menjadi sabar bila kami mengalami ketidak-adilan. Karena cinta kepada-Mu kami pun ingin bersikap sopan, bila disapa dengan kasar. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Sri Yesus Penebus kami,
dijatuhi hukum mati,
agar umat-Nya hidup.
Perhentian 2: Yesus Memanggul Salib
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Para serdadu menganyam sebuah mahkota duri dan meletakkannya di kepala Yesus. Setelah diolok-olok, Yesus dibawa keluar, sebuah salib besar diletakkan di atas bahu-Nya. Yesus menerima beban itu dengan rela dan cinta. Betapa pahit piala yang harus diminum-Nya. Apakah kita masih sanggup memanggul salib, bila datang kesulitan dan diejek orang karena iman kita pada Kristus? Apakah kita tahan menderita bila kena sakit, atau kita mengeluh saja? (hening)
P: Ya Tuhan, dengan rela Kaupanggul salib-Mu yang berat karena kelemahan kami. Berilah kami kekuatan untuk memanggul salib kami yang kecil dibandingkan dengan salib-Mu yang berat. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Salib berat dipanggul-Nya,
agar kita ikuti-Nya,
memikul salib kita.
Perhentian 3: Yesus Jatuh yang Pertama Kali di Bawah Salib
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Yesus sudah capai. Raga-Nya yang perkasa sudah menjadi lemah. Beban-Nya kelewat berat. Jalannya mendaki. Yesus jatuh di bawah salib yang berat ini. Tetapi Yesus tidak berhenti di situ. Karena ditopang oleh semangat yang luar biasa, ia berusaha bangun kembali dan melanjutkan perjalanan-Nya.
Jatuh memang merupaan pengalaman yang tidak enak. Lebih-lebih bila disaksikan dan diketahui banyak orang. Apakah kita rela mengakui kesalahan kita waktu jatuh? Ataukah kita menutup kesalahan kita dengan sombong? Apakah kita berani bangun kembali dengan rendah hati, ataukah kita tetap di bawah saja karena malu. (hening)
P: Ya Tuhan, Engkau bersabda, “Hanya yang memikul salib dan mengikuti Aku dapat menjadi murid-Ku”. Denga rela Kaupanggul salib yang berat karena kelemahan kami. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Sri Yesus tolonglah kami,
bila kami jatuh lagi,
tertindih salib berat.
Perhentian 4: Yesus Berjumpa dengan Ibu-Nya
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Maria berdiri di pinggir jalan salib yang dilewati oleh Puteranya. Mereka saling beradu pandang. Maria melihat kesdihan Puteranya dan turut menanggung segala penghinaan dan kesakitan bersama Dia.
Setia kepada orang yang kuat dan berkuasa, itu lebih mudah dariapada setia kepada teman yang namanya jelek dan dimusuhi banyak orang. Namun kesetiaan ini dibutuhkan seseorang untuk tetap bertahan pada cita-citanya. (hening)
P: Ya Tuhan, berilah kami semangat seperti Bunda Maria. Berilah kami hati yang terbuka untuk mengerti dan menerima keadaan orang lain seperti apa adanya dan jadikan kami peka untuk menghargai perhatian dan cinta sesama kepada kami sendiri. Yesus yang lembut hati, Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Maria s’lalu setia,
pada Sang Kristus Puteranya,
dalam suka dan duka.
Perhentian 5: Yesus Ditolong Simon dari Kirene
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Tuhan sendiri tidak sanggup lagi memanggul salib-Nya lebih jauh. Algojo-algojo memaksa seorang petani yang baru saja pulang dari ladangnya untuk membantu Yesus memanggul salib-Nya.
Tuhan bersabda, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya”. “Bertolong-tolonglah menanggun bebanmu, demikian kamu memenuhi hukum Kristus”, kata Santo Paulus. Saling membantu dan menolong adalah kata-kata yang mudah diucapkan namun tak mudah dilaksanakan. Apakah kita masih mempunyai hati untuk pengemis yang lapar, orang yang berduka, teman yang terlalu banyak beban, - ataukah hati sudah menjadi benteng yang tertutup? Bantuan, meski kecil, sangat berarti bagi yang membutuhkannya. (hening)
P: Ya Tuhan, kami takut terhadap salib, lembutkanlah hati kami yang keras. Tumbuhkanlah sikap salig menolong dan membantu, agar masyarakat semakin damai dan sejahtera menurut kehendak-Mu. Tuhan, Engkau menerima Simon dari Kirene sebagai pembantu utuk memanggul salib bersama Dikau. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Cinta bakti pada Tuhan,
hanya dapat dibuktikan,
dengan saling mengabdi.
Perhentian 6: Veronika Mengusapi Wajah Yesus
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Veronika melihat penderitaan Yesus dan kekerasan serdadu-serdadu. Tanpa takut dan malu ia mendekati dan mengusapi wajah Yesus yang berlumur darah itu. Sebagai tanda terima kasih-Nya Veronika mendapat gambar wajah Yesus.
Di sekitar kita ada orang yang butuh bantuan, karena lapar, karena sakit, karena jadi kurban persaingan. Apakah kita takut diejek, dicemoohkan, diasingkan? Apakah kita malu bekerja rajin, karena takut dianggap menjilat? (hening)
P: Ya Tuhan, semoga teladan Veronika membuat niat kami untuk berani membantu orang yang menderita, dan tidak malu melawan kelaliman dan kemiskinan. Engkau bersabda, “Apa yang kau perbuat bagi saudara-Ku yang paling hina ini, itu kaulakukan untuk Aku.” Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Lipuran yang meringankan,
duka orang yang tertekan,
menghibur Kristus juga.
Perhentian 7: Yesus Jatuh Kedua Kalinya di Bawah Salib
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Walau dibantu oleh Simon dari Kirene, namun karena beratnya beban dan sakitnya badan, Yesus jatuh kedua kalinya di bawah salib. Lebih menyedihkan dari yang pertama. Namun dengan tenaga yang masih tersisa, Yesus berusaha berdiri kembali untuk menyelesaikan kurban-Nya.
Dengan enak kita jatuh kembali dalam kesalahan dan dosa yang sama. Kita tidak tekun untuk bertahan dalam niat yang baik. Namun Tuhan tidak suka dengan orang yang puas dengan diri sendiri. Masih banyak yang harus kita bereskan dalam diri kita, dalam keluarga, dalam masyarakat dan negara kita. Masih banyak soal untuk mewujudkan kesejahteraan antar kita. (hening)
P: Ya Tuhan, karena kami membuat kesalahan dan dosa yang sama, maka Engkau jatuh lagi. Berilah kami semangat untuk mulai merubah diri dan mengambil langkah yang perlu untuk menghindari terjadinya kesalahan yang merugikan Dikau dan sesama. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Bilamana kami lemah,
jatuh tercampak di tanah,
tegakkan kami lagi.
Perhentian 8: Yesus Menasihati Wanita-Wanita yang Menangis
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Sejumlah wanita meratapi Yesus yang sedang sengsara. Daripada menangis, sebaiknya mereka mengikuti Yesus dalam jalan salib. Namun itu tidak mereka lakukan. Maka mereka ditegur oleh Yesus, “Janganlah menangisi Aku, tetapi tangisilah dirimu dan anak-anakmu”.
Tuhan menunjukkan betapa Ia lebih menghargai karya dan amal kasih daripada kata-kata dan air mata yang mengharukan. Lebih baik kita merubah diri daripada menangisi dosa kita. Tidak cukup kita menangis bersama orang lain; kita harus juga membuka jalan bagaimana ia dapat keluar dari kesusahannya. (hening)
P: Ya Tuhan Yesus, bebaskanlah kami dari rasa takut terhadap kurban. Janganlah kami menjadi kecil hati bila melihat orang lain menderita. Bantulah kami agar dalam keadaan apapun kami mampu menyemangati diri kami sendiri dan membantu orang lain yang sedang kesusahan. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Tobatkanlah jiwa kami,
arahkanlah sikap hati,
pada cinta sejati.
Perhentian 9: Yesus Jatuh Ketiga Kalinya di Bawah Salib
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Puncak gunung Golgota sudah nampak. Yesus sudah kehabisan tenaga sama sekali. Karena berat penderitaan-Nya, Yesus jatuh tersungkur untuk ketiga kalinya. Namun ita tidak mau menyerah. Demi cinta-Nya kepada Bapa dan manusia, Ia ingin menyelesaikan tugas-Nya. Untuk pendosa yang tidak mau bertobat, Ia menderita untuk membuka jalannya kembali kepada Bapa. Maka Ia berusaha bangun lagi dan berjalan terus.
Kitapun belum sampai tujuan. Bagi kita pun dapat tiba saatnya di mana semua kurban nampak sia-sia, di mana semangat kita padam. Namun tidak ada derita tanpa arti bagi orang yang percaya kepada Kristus. (hening)
P: Ya Tuhan, Engkau jatuh lagi di bawah salib yang berat. Namun Engkau tidak menyerah melainkan bangun kembali. Kami kagum karena hasrat-Mu untuk menyelesaikan jalan yang berat. Maka kuatkanlah semangat kami bila kami putus asa dan ingin menyerah. Ampuni kami bila patah semangat. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Bila hatiku gelisah,
kar’na dosa atau susah,
ulurkanlah tangan-Mu.
Perhentian 10: Pakaian Yesus Ditanggalkan
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Sesampai di bukit Golgota, Yesus disiapkan untuk disalibkan. Serdadu-serdadu secara kasar sekali melancarkan penghinaan yang paling keji, menanggalkan pakaian Yesus di muka umum. Dan luka-luka bekas penderaan mulai berdarah lagi.
Apakah kita berbuat lebih baik, bila kita menghina orang lain, menceritakan kelemahan orang lain? Apakah kita tidak menghina Tuhan, bila kita kurbankan kemurnian tubuh ktia? Tuhan menderita, karena kita tidak punya perasaan malu. (hening)
P: Ya Tuhan, dalam hidup Engkau telah menunjukkan kepada kami betapa tinggi bagi-Mu nilai tubuh manusia. Ajarilah kami untuk lebih senang berkurban dan mati raga daripada hidup enak-enak dan menyalahgunakan tubuh kami untuk mencari kenikmatan jasmani semata. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Pakaian-Mu dibagikan,
jubah utuh diundikan,
martabat-Mu dihina.
Perhentian 11: Yesus Dipaku pada Kayu Salib
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Tibalah saat yang paling ngeri: para algojo mencampakkan Yesus ke tanah, menembusi tangan dan kaki-Nya kemudian memaku-Nya pada palang penghinaan. Setelah itu mereka menegakkan salib itu. Tanpa mengeluh Yesus mendoakan para algojo: “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Kita pun sering terikat pada manusia, pada suatu tugas yang tidak enak, maka kita lari daripadanya. Namun menjadi pengikut berarti ikut dipaku di salib. Sanggupkah kita menyelesaikan tugas kita? (hening)
P: Tuhan, menjadi pengikut-Mu tidak mungkin setengah-setengah. Engkau ingin memberi kekuatan pada kami untuk menanggung segala yang tidak enak, untuk mengikuti Dikau secara konsekuen. Tuhan, kami lemah. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Dari salib-Mu Kaulihat,
tak terbilang yang menghujat,
berapakah yang setia?
Perhentian 12: Yesus Wafat di Salib
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Tiga jam lamanya Yesus bergulat dengan maut. Tiga jam penuh sengsara. Sendiran, sampai Ia merasa ditinggalkan oleh Bapa-Nya waktu Ia berseru dengan suara nyaring. “Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Daku?” Namun Ia taat sampai mati kepada Bapa dengan berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Ketaatan inilah yang mendatangkan penebusan dosa bagi manusia
Berkurban itu memang pahit, bila ditanya “mengapa?”; namun membahagiakan bila dilaksanakan dengan penuh ikhlas. Kurban Kristus adalah jaminannya. Percayakah kita bahwa jalan salib apapun bagi kita menjadi jalan bahagia? Percayakan kita bahwa kurban mana pun membawa berkat bagi kita? Itulah salib Kristus. (hening)
P: Ya Yesus yang mahabaik, tak ada cinta yang lebih besar daripada cinta seorang yang menyerahkan nyawa-nya bagi sahabatnya. Demikian besar cinta-Mu kepada kami. Kami bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu. Tolonglah agar kami dapat memberikan balas kasih kepada-Mu, khususnya bila cinta menuntut pengurbanan. Yesus yang taat kepada kehendak Bapa. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Benih yang mati hasilkan,
buah yang berkelimpahan,
wafat-Mu: sumber hidup.
Perhentian 13: Yesus Diturunkan dari Salib
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Maria ikut menderita bersama Puteranya. Maka kini usahanya yang terakhir ialah menghormati Puteranya dengan memakamkan-Nya secara pantas. Maka Yusuf dari Arimatea menurunkan Yesus dari salib dan merebahkan-Nya pada pangkuan Maria bunda-Nya. Sekali lahi Maria memeluk Putera-Nya dan dalam hati ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendak-Mu”. Dialah abdi Allah yang setia. Kita pun didampingi Maria baik dalam suka maupun dalam duka, baik dalam hidup maupun dalam kematian. Apakah kita pun sabar mendampingi sesama yang menderita? Apakah kita kuat dalam percaya? (hening)
P: Ya Bunda Maria, kami kagum melihat sikapmu. Sikap cinta tanpa pamrih, setia karena percaya kepada Allah. Doakanlah agar kami mampu meneladan cintamu. Bukan hanya dalam kata-kata hampa, tetapi nyata dalam hidup dan perbuatan kami. Bunda yang berduka cita, melalui Yesus Putra-mu, kami berseru: Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Salib tanda penghinaan,
jadi lambang kemenangan,
lantaran wafat Yesus.
Perhentian 14: Yesus Dimakamkan
P: Kami menyembah Dikau ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu,
U: Sebab dengan salib suci Engkau telah menebus dunia.
P: Karena Sabat akan mulai, maka Yesus diminyaki dan segera dimakamkan. Namun maut tidak dapat menahan Tuhan. Dari kubur-Nya bangkitlah kehidupan; cinta Yesus lebih kuat daripada maut.
“Kalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tinggal sendirian! Namun bila ia mati, ia berbuah banyak”. Bagi kita orang Kristen, maut tidak boleh menakutkan; bila kita mengikuti Yesus pada jalan salib hidup kita, maka Ia akan menyediakan pula bagi kita hari Paska yang cerah. (hening)
P: Ya Tuhan, Engkau sendiri juga ingin merasakan kegelapan makam seperti nasib kami sendiri. Kuatkanlah kami yang belum mengalami kebangkitan, agar berharap meskipun masih gelap, percaya kepada Dikau yang sudah bangkit meskipun kami masih di jalan salib. Dikaulah Raja dan Penebus kami. Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami.
U: Ya Allah, kasihanilah kami orang berdosa.
Jenazah-Nya dimakamkan,
rebah dalam penantian,
menyongsong kemuliaan.
Doa Penutup
P: Ya Allah, kekal dan mahakuasa, kami bersyukur kepada-Mu, karena Engkau membaharui hidup kami dengan wafat dan kebangkitan Putera-Mu. Kuatkanlah kami, agar kami dengan mengikuti jalan salib Putera-Mu menjadi rela untuk memanggul salib dengan setia dan tekun serta rela mengabdi kepada Dikau dan sesama. Berilah rahmat-Mu kepada semua yang kami doakan tadi dan hantarlah kami semua kepada kebangkitan. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.
U: Amin.
Nama Yesus dimuliakan,
kurban salib dikenangkan,
untuk s’lama-lamanya.